SLEMAN – Gempa 2006 menyisakan banyak kisah hing-ga saat ini. Terhitung gempa yang terjadi 27 Mei 2006 ini ter-catat lima ribu lebih korban meninggal di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah. Ditambah 428.909 unit rumah penduduk rusak berat atau roboh dengan total ke-rugian mencapai Rp 29,2 triliun
Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM Dr Rer Nat Djati Mardiatno, MSi, menilai ada cata-tan penting dari peristiwa alam ini. Utamanya, kesiapan pemerin-tah menghadapi bencana alam. Mulai dari penanggulangan hingga program pembangunan yang dilakukan di semua sektor.

“Belajar dari peristiwa alam tersebut harusnya pemerintah sadar, warga hidup di wilayah rawan bencana. Tindakan pre-ventif perlu dilakukan. Semen-tara untuk proses pemulihan dan pembangunan berlangsung pascagempa relatif cepat,” katanya dalam sarasehan Kilas Balik Pembangunan Pasca Gempa Bumi Jogjakarta Jawa Tengah 2006 di Pusat Studi Bencana UGM, Rabu (25/5).Djati menuturkan, pembangunan pascagempa memang cepat.

Sebab, akses bantuan kala itu datang dari berbagai sumber. Baik dari pemerintah, masyarakat, perusa-haan hingga bantuan luar negeri.Upaya pembangunan ini mam-pu membangun 144.034 rumah dalam 253 hari. Dengan hitung-an rata-rata pembangunan 570 rumah per harinya. Menurutnya, salah satu faktor penyebab cepatnya respons adalah budaya nilai luhur yang kuat. “Budaya gotong royong dalam masyarakat benar-benar terasa pada waktu itu. Bahu membahu satu sama lain dan ini sudah menjadi salah satu wujud kebu-dayaan warga DIJ. Hal ini men-jadi pondasi bagi masyarakat Jogjakarta untuk bisa pulih kem-bali seperti semula,” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Gatot Saptadi menilai, ada empat faktor penentu keberhasilan rehabili-tasi dan rekonstruksi. Dimulai dari kepemimpinan, penerapan kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat secara benar, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.Nilai-nilai ini, menurutnya, terdiri dari budaya tolong me-nolong dan saling menghargai. Kekuatan Jogjakarta terhadap kebudayaan inilah, menurut Gatot, yang menjadi penopang.

“Pada dasarnya kehidupan srawung berperan besar dalam proses recovery. Bisa dibilang konsepnya adalah community based,” ungkapnya.

Kala itu, lanjutnya, pemerintah memberikan stimulan sebesar Rp 15 juta per rumah, dan ma-syarakat rata-rata berkontri-busi sebesar Rp 28,10 juta.Koordinator Bidang Advokasi Forum Pengurangan Risiko Bencana DIJ Aris Sustiyono me-nilai budaya kuat yang terpusat pada tradisi menjadi kuncinya. Salah satu contoh riil adalah falsafah hidup Hamemayu Hayuning Bawana.

“Ini adalah falsafah hidup yang ditanamkan Sri Sultan Hameng-ku buwana I. Menjalin hubungan harmonis, baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, maupun manusia dengan alam sekitarnya,” jelasnya.Sementara itu, Muhamma-diyah Disaster Management Center (MDMC) memperi ngati refleksi 10 tahun gempa bumi DIJ dengan simulasi bencana di Muhammadiyah Boarding School (MBS), Kamis (26/5). Peristiwa gempa 2006 dijadikan pembelajaran untuk mitigasi bencana.

Dalam simulasi bencana yang digelar, sekitar 30-an siswa dalam satu kelas mendapatkan ins truksi pengamanan saat gempa bumi terjadi. Ketua MDMC Budi Setiawan mengatakan , ekolah merupakan basis pendidikan kebencanaan. Edukasi keben-canaan penting diberikan pada murid agar mereka siap meng-hadapi segala kemungkinan yang terjadi saat gempa terjadi.

“Sekolah dan pesantren bisa menjadi basis edukasi keben-canaan karena potensinya cukup besar. Dari tempat ini setidaknya penanganan kebencanaan di-ajarkan,” uajr Budi di sela-sela kegiatan kemarin.Melalui refleksi gempa 2006, lanjut Budi, siapa saja memiliki kesempatan untuk mengeva-luasi kekurangan dalam meng-hadapi bencana. Dari kritik ini, nantinya ada perbaikan dan penyempurnaan dalam penga-nan bencana.

Menurutnya, ketidakterampilan dalam menghadapi bencana menjadi salah satu faktor utama penyebab kerugian warga. Karena banyak ma syarakat yang tidak mengerti harus berbuat apa saat bencana terjadi. Sehingga yang terjadi bukan penyelamatan diri, malah menjadi korban bencana.

“Saat gempa terjadi, bila tidak sempat mencari tempat aman segera berlindung di balik meja. Ini mengurangi risiko tertimpa benda keras,” jelasnya.Salah satu siswa kelas VIII MBS Salsabila mengaku, panik jika ter-jadi gempa di pondok pesantren. Sebab asrama MBS me miliki bangunan yang tinggi. “Memang ada kepanikan. Namun guru meng-instruksikan kepada murid untuk berlindung di bawah meja kelas,” jelasnya. (dwi/bhn/ila/ong)