DWI AGUS/RADAR JOGJA
SISAKAN CERITA: Mbah Tugiyem, salah satu warga di Desa Ngelepen, Prambanan, Sleman yang terkena dampak gempa sepuluh tahun silam. Kini, dia tinggal di kawasan Rumah Dome New Ngelepen.
Destinasi Wisata, Jadi Jujugan Anak Muda untuk Berfoto
Gempa tektonik tepat 27 Mei 2006 silam masih menyisakan cerita di benak Tugiyem. Warga Ngelepen, Prambanan, Sleman berusia 73 tahun ini merasa beruntung bisa selamat meski rumahnya rata dengan tanah. Dia bersama puluhan keluarga lain lantas diminta pindah ke lokasi baru di Rumah Dome New Ngelepen.

DWI AGUS, Sleman
SEBUAH kawasan perumahan di Desa Ngelepen, Prambanan, Sleman ini menyita perhatian orang. Sebab, bentuknya unik.

Ya, bentuk rumah dome ini menjadi ciri khas desa ini. Jika dilihat bentuk dari rumah ini menyerupai rumah Teletubies, tokoh film fiksi anak yang kerap diputar di se-buah televisi swasta era 2000an. Ini pula yang menjadikan Rumah Dome New Ngelepen menjadi destinasi wisata di daerah Sleman
Bagi Tugiyem, salah satu peng-huni rumah dome, tinggal di sana dirasa nyaman. Meski di-akui, dia harus pergi dari kam-pung halamannya yang berada di sisi timur dari kawasan rumah dome.

“Diungsikan ke sini saat gempa 26 Mei 2006. Desa saya, Ngelepen, sudah tak layak huni karena berada pada sesar Opak,” ungkapnya.

Perpindahan dari desa lamanya hanya berjarak beberapa kilo-meter. Tepatnya di sisi timur yang saat ini bernama New Ngelepen. Di desa baru ini ter-dapat puluhan rumah berbentuk setengah lingkaran. Berbahan beton rumah ini terkenal dengan nama rumah dome.

“Diberitahu untuk pindah karena sudah tak layak huni. Tanahnya bergerak dan bahaya untuk warga. Akhirnya seluruh warga desa Ngelepen pindah ketempat ini,” kata Tugiyem dalam bahasa Jawa ditemui belum lama ini.

Perpindahan ini tentu saja mempengaruhi mata pencaha-rian Tugiyem. Awalnya, nenek enam cucu ini adalah pedagang di Pasar Naran Prambanan. Saat ini dia membuka warung di se-belah utara gerbang Rumah Dome New Ngelepen.

“Total ada 80 rumah yang di-huni sekitar 71 kepala keluarga. Sisanya digunakan sebagai tem-pat ibadah, klinik berobat, kamar mandi, taman bermain anak, dan galeri dome,” ujarnya.

Tugiyem menuturkan, karena bentuknya yang unik, kawasan rumah dome ini jadi jujugan wisatawan. Terutama anak-anak muda yang ingin berfoto di de-pan rumah dome. “Pasti ada wisatawan yang datang ke sini setiap harinya,” ungkapnya.

Dia pun memiliki kisah saat gempa terjadi. Kala itu, Tugiyem sudah dalam perjalanan me nuju pasar. Mengetahui ada gempa dia memutuskan untuk kem-bali ke desa. Alhasil, kulakan pisang yang dibawanya tak jadi dijual, namun dibagikan ke warga desanya.

“Sudah sampai di tengah jalan, tiba-tiba ada gempa. Pas lihat keadaan desa sudah tidak ka-ruan. Rumah sudah ambruk dan ada warga yang jadi korban reruntuhan rumah,” kenangnya.Perempuan sepuh ini mengaku nyaman tinggal di rumah dome. Alasannya, bangunannya lebih kuat dibandingkan rumah lama-nya. Selain itu, rumah ini juga terasa sejuk. Saat musim kemarau tidak terlalu panas, begitu pula musim hujan tetap terasa hangat.

Seusai gempa, warga New Nglepen, menurut Tugiyem, tetap melanjutkan hidup. Momentum gempa Jogjakarta justru membuat warga semakin cerdas. Tidak lagi takut, namun memahami apa yang terjadi jika gempa terjadi. “Seperti sore ini, banyak anak bermain dengan riang. Aktivitas juga berangsur-angsur membaik seperti dulu. Ekonomi warga sudah berjalan normal dan su-dah tidak panik lagi kalau gempa terjadi,” ujarnya.

Rumah Dome New Ngelepen sendiri dibangun di atas tanah seluas dua hektare. Dibangun oleh Domes for the World Foun-dation dengan donator tunggal taipan asal Dubai Ali Alabar. Diresmikan oleh oleh Menteri Pemukiman Hidup kala itu Prof. Dr. Alwi Sihab. (ila/ga/ong)