BANTUL – Usia belia tak lantas membuat Bank Islam Institue (Baiti) Bantul kalah bersaing dengan lembaga perbankan lain. Bahkan, bank yang berkantor di lingkungan Pondok Pesantren (PP) Tahfidzul Quran Anumarta di padukuhan Je jeran, Wonokromo, Pleret itu me miliki banyak konsep dan pro-gram menggiurkan.

Salah satu andalannya adalah sistem Bank Irba’. Konsep yang di-te rapkan jauh berbeda dengan sistem di bank konvensional mau-pun syariah.

Pengasuh PP Tahfidzul Qur’an Anumarta Kyai M. Djawis Mas-ruri mengatakan, perbedaan sistem Bank Irba’ dengan konvensional atau syariah terletak pada agunan dan bunga (riba). Dia menjelaskan, Islam memperbolehkan agunan sebagai syarat pengajuan pinjaman modal. Tapi, hal itu hanya untuk kondisi tertentu.

“Seperti menjamak atau mgnqa-sar salat saat bepergian. Jika tidak sedang bepergian, ya, dilarang,” tutur Djawis disela acara “Setahun Baiti dan Bedah Buku Sistem Bank Irba’ Shahih-Negatif Suku Bunga di PP Tahfidzul Qur’an Anumarta kemarin (29/5).

Tentang bunga, Djawis memas-tikan hal itu ada dan berlaku di bank konvensional maupun sya-riah. Sebab, ketentuan bunga di-hitung dan disampaikan kepada pemohon kala akan mengajukan pinjaman modal.

“Ini berbeda de-ngan sistem Bank Irba’. Bunganya nol persen karena dengan model bagi hasil,” tandasnya.

Djawis mengklaim, bank yang menerapkan model pembiayaan dengan sistem Bank Irba’ tidak akan gulung tikar. Bagi hasil ber dasarkan prosentase perbandingan 50:50.Pembagian iitu tidak hanya kala usaha yang dikelola pemohon pinjaman modal meraih untung.

Demikian pun saat si pengusaha merugi. Semua ditanggung ber-sama. Itulah yang membedakan sistem Bank Irba’ dengan konven-sional dan syariah yang hanya menghitung nilai bunga pinjaman tanpa melihat potensi untung rugi usaha pemohon pinjaman.

“Perhitungan bagi hasil dilakukan belakangan karena nggak hanya menghitung keuntungan,” ung-kapnya.

Kendati demikian tak semua pemohon bisa mempe-roleh pinjaman bank Irba’. Ada seleksi. Hanya usaha yang sudah ada kepastian labanya bisa mem-peroleh pinjaman. Itupun, para pe mohon yang baru merintis usa ha akan dibina terlebih dahu-lu oleh Baiti.

Djawis optimistis, sistem Bank Irba’ mampu menjawab tan ta ngan perbankan di Indonesia, sekaligus mendorong akselerasi pertum-buhan ekonomi. Sebab, menurut dia, banyak negara di Asia, bahkan di Eropa menerapkan sistem per-bankan hampir serupa. “Bank Eropa bunganya 0 per-sen. Di Jepang minus 2 persen. Di Brunei 4 persen. Sementara Indonesia masih 9 persen,” pa-parnya. (*/zam/yog/ong)