DOKUMEN KELUARGA
DALAM KENANGAN: Foto dokumentasi korban Joko Setiono selfie bersama putra bungsunya dalam sebuah pertemuan keluarga beberapa waktu lalu.

Pacaran sejak Masih di Bangku SMA, Kemana-mana Selalu Bersama

Kesedihan tampak di depan ruang jenazah RSUP Dr Sardjito, Minggu siang (29/5). Keluarga dan kerabat dari Joko Setiono dan Tutik Sri Pujiati menunggu di luar ruangan
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
Keduanya merupakan pasangan suami istri asal Jogoyudan, Jetis, Jogja yang meninggal dalam kecelakaan di Jalan Jenderal Sudirman, Minggu pagi (29/5).

Keduanya pergi ke Pasar Krang-gan karena dipasrahi membeli keperluan lelayu oleh warga.

“Ada warga di sebelah rumah yang meninggal. Pak Joko dan Bu Tutik yang diminta mem-beli keperluan pemakaman. Kalau dari penuturan Dias, bapak ibunya berangkat dari rumah jam 05.30,” katanya kepada Radar Jogja di RSUP Dr Sardjito, kemarin (29/5).

Joko dan Tutik meninggalkan tiga putra. Keluarga dan kerabat tidak menyangka jika pelukis dan ibu rumah tangga itu me-ninggal bersamaan.

“Putra awalnya curiga kok bapak-ibunya tidak pulang-pulang. Dia terus nyusul. Sampai Tugu lihat korban masuk ke ambulance. Perasaannya sudah tidak enak,” ujarnya.

Anjar sendiri mengaku me-ngetahui kejadian kecelakaan tersebut setelah didatangi Polsek Tegalrejo. Itu setelah polisi me-lihat KTP yang dibawa Tutik yang masih beralamat di Jatimulyo. Sebelumnya Tutik memang beralamat di tempat itu, sebelum pindah ke Jogoyudan, Jetis mengikuti suaminya.

“Semua keluarga langsung kalut. Apalagi dikatakan korban-nya berjilbab. Bu Tutik memang sehari-hari berjilbab. Keluarga lalu diminta ke kamar jenazah. Shock, ternyata kedua jenazah benar Pak Joko dan Bu Tutik,” ungkapnya.

Sebelumnya, Anjar mengaku seperti mendapat firasat atas kepergian kerabatnya itu. Sebab pada Sabtu malam (28/5), dia mendapat banyak pesan dari kerabat besarnya yang me-nanyakan keadaan Tutik.

“Iya saudara juga banyak yang tanya, kabarnya Bu Tutik. Saya jawab Bulik Tutik sehat-sehat saja. Besok (kemarin) kumpul-kumpul. Ternyata hari ini kum-pulnya seperti ini (duka cita),” ungkapnya.

Menurut Anjar, paman dan bibinya adalah pasangan yang romantis. Keduanya selalu akur seperti tidak bisa dipisahkan. Joko sehari-hari bekerja di Sagan sebagai pelukisan dan pembuat pigura. Saat bekerja itu, bibinya juga selalu menemani.

“Pokoknya kemana-mana selalu bareng. Jauh-dekat selalu ditemani, ditungguin. Seperti Romeo dan Juliet. Apalagi mereka pacaran dari SMA,” katanya.

Di mata keluarga besarnya, Tutik adalah orang yang nrimo. Pribadinya tidak pernah neko-neko. Mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya dengan ikhlas. Bekerja dan mensyukuri pemberian dari Tuhan.

“Sederhana dan polos, saking polosnya kadang dikerjai orang,” tuturnya.

Sedangkan Putra telah tabah harus ditinggal selama-lamanya oleh kedua orang tuanya. Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengaku sudah ikhlas.

“Sudah ikhlas, sudah takdirnya Gusti, harus tabah,” kata Putra seperti ditirukan Anjar. Anjar menambahkan, menurut kesepakatan dan permintaan keluarga, rencananya kedua jenazah akan dimakamkan di Jatimulyo.

“Dimakamkan di Jatimulyo besok (hari ini),” tandasnya. (ila/ong)