HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BUDAYA: Warga nampak antusias memperebutkan gunungan dalam acara Nyadran Agung yang dipusatkan di Alun-alun Wates, Sabtu (28/5).
KULONPROGO- Nyadran. Tradisi doa bersama dilanjutkan ziarah ke makam keluarga. Budaya yang digelar setiap bulan Syaban (Ruwah, penang-galan Jawa) di wilayah pedesaan itu tak pernah lekang dimakan zaman. Arus modernisasi pun tak mampu menggerusnya.

Terlebih, Nyadran Agung di Kulon-progo, yang melibatkan sebagian besar warga. Pelaksanaannya tak terpencar di desa-desa.

Tapi dipusatkan di Alun-Alun Wates, Sabtu (28/5). Acara itu makin meriah dengan adanya 22 gun-ungan hasil bumi yang sengaja dise-diakan panitia untuk diperebutkan masyarakat.

Tak ayal, kurang dari 15 menit, isi gunungan ludes. Hanya menyisakan kerangka penyusun gunungan. Seiring berjalannya waktu, Nyadran Agung bukan lagi menjadi ritual tradisional. Tapi telah bermetamorfosis menjadi daya tarik wisata.

Tanpa meninggalkan esensi budayanya.Nyadran Agung dikuti 12 kecamatan dan seluruh perwakilan satuan ker-ja perangkat daerah (SKPD) Pemkab Kulonprogo. Setiap desa membawa tenongan, us-ungan dari anyaman bambu yang be-risi ubo rampe, seperti nasi tumpeng, daging ingkung, dan aneka jajan pasar.

Sebelum diperebutkan warga, tenong-an dan gunungan diarak mulai depan gedung DPRD Kulonprogo menuju Alun-Alun Wates. Ziarah dan doa ke makam leluhur dilakukan sebelum pelaksanaan Nyadran Agung.

“Kami sengaja masih mempertahankan tradisi ini karena am-puh untuk mempererat silaturahmi masyarakat,” ujar Umar Sanusi, salah seorang tokoh adat Bumi Binangun.

Bahkan, tak sedikit warga perantau asal Kulonprogo pulang kampung hanya untuk mengikuti prosesi Nyadran Agung. Ketua Badan Koordinasi Paguyuban Kulonprogo Bejo Suyanto menamba-hkan, tradisi tersebut sekaligus seba-gai ungkapan rasa syukur atas berkah dan rahmat dari Tuhan. Terlebih pembangunan di Kulonprogo cukup pesat. Banyak akses jalan dipinggiran kini sudah terbuka dan baik.

“Pembangunan memang tidak hanya berbentuk fisik. Perlu juga didukung dengan pendidikan. Itu membutuhkan pemikiran bersama,” katanya.

Bagi Bupati Kulonprogo Hasto War-doyo, Nyadran Agung menjadi salah satu cara melestarikan budaya. “Tentu saja harus dijaga. Karena budaya menjadi pilar pembangunan,” ucapnya. (tom/yog/ong)