JOGJA – Rencana penggusuran di area Pasar Kembang akhirnya benar-benar ter-jadi. Tapi, ini bukanlah pasar kembang yang identik dengan lokasi prostitusi. Melainkan lapak yang berada di sisi utara Jalan Pasar Kembang.

Pedagang yang menempati lahan milik Sultan Ground (SG) itu bahkan telah diundang ke kantor PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) VI di Jalan Lem-puyangan, Kamis (26/5) lalu.

Mereka di undang untuk sosialisasi mengenai rencana peng-gusuran yang mewajibkan pedagang harus sudah pindah Juli mendatang.

“Kami hanya mendapatkan fasilitas truk untuk mengangkut barang-barang,” tandas Ketua Paguyuban Manunggal Karso Rudi Triwarna, ditemui di tokonya di Jalan Pasar Kembang, kemarin (30/5)
Pemilik toko Jamu Jago ini meng-ungkapkan, pihaknya heran dengan rencana PT KAI tersebut. Sebab, selama ini keberadaan mereka diakui Pemkot Jogja.

Ini dibuktikan dengan kepemilikan surat bukti pedagang (SBP) dari Dinas Pengelolaan Pasar (Din-lopas) Kota Jogja. Pedagang juga membayar retribusi setiap hari ke Pemkot Jogja.

“Kami bayarnya ke Lurah Pasar Pathuk. Besarnya retribusi Rp 7.400 setiap harinya,” katanya.

Dia menambahkan, kebera-daan pedagang tersebut sudah ada sejak tahun 1965. Saat itu, di sana memang benar ada Pa-sar Kembang. Lalu, pedagang kembang ini dipindahkan ke Jalan Ahmad Jazuli. Beberapa akhirnya dipindahtangankan.

“Beberapa pedagang buku juga pindahan ke Senopati. Tapi, karena di sini sepi (jualan buku) ada yang beralih usaha. Ada juga yang dipindatangankan,” jelasnya.

Sesuai dengan rencana, peng-gusuran ini akan menyasar 85 pedagang. Itu mulai dari sebelah barat Kantor KAI Logistik sampai sisi timur Polsek Gedongtengen.

Sekretaris Paguyuban Manung-gal Karso Eriyon mengatakan, semua pedagang itu, harus men-cari tempat berdagang sendiri.

“Secara prinsip kami siap kalau ada penataan. Tapi kalau peng-gusuran kami tolak sampai titik darah penghabisan,” tandasnya.

Eriyon pun mendapatkan in-formasi, jika lahan bekas tem-patnya untuk berdagang itu akan dibangun pusat perbelanjaan. Terlebih, daerah tersebut men-jadi kawasan strategis.

“Saat sosialisasi kami ditawarkan un-tuk menempati pusat perbelan-jaan nantinya. Jelas, kami tidak kuat (membayar sewa),” sesalnya.

Executive Vice President PT KAI Daops VI Hendy Helmy mengakui, pihaknya memiliki rencana untuk menata sisi se-latan Stasiun Tugu. Pihaknya memiliki target, sebelum mudik lebaran mendatang, penataan itu sudah selesai.

“Ini bagian dari revitalisasi Malioboro. Jadi, bukan untuk mal. Nantinya akan dikembali-kan untuk trotoar sebagai pedes-trian,” katanya.

Helmy mengatakan, untuk pen-dataan ini pihaknya bekerja sama dengan Pemkot Jogja dan aparat keamanan. Terlebih, penataan juga sudah mendapatkan surat perintah Keraton selaku pemilik lahan tersebut.

“Tujuannya mengembalikan estetika dan fungsi trotoar,” jelasnya.

Di lain pihak, Wali Kota Haryadi Suyuti menegaskan, tidak ada penggusuran pedagang di bekas Pasar Kembang tersebut. Pihaknya tetap mengedepankan penataan yang lebih humanis.

“Tetap ke-depankan sisi humanis. Makanya, saat ini, kami masih mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak. Baik PT KAI maupun pe-dagang,” ujar HS, sapaannya.

Solusi tersebut, kata dia, harus bisa diterima semua pihak. Pe-dagang tetap bisa berjualan. Sedangkan pejalan kaki juga bisa menikmati haknya berjalan dengan aman dan nyaman di trotoar nantinya. “Kami masih terus koordinasikan,” katanya. (eri/ila/ong)