ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
TRADISI: Sejumlah bregada dari Kauman dan Pakualaman mengikuti kirab Nyadran yang diadakan di Makam Sewu, Bantul, kemarin (30/5).
BANTUL – Tradisi Nyadranan di kompleks Makam Sewu kembali diselenggarakan ma-syarakat Wijirejo, Pandak dan sekitarnya, kemarin (30/5).

Tradisi yang telah mengakar kuat ini dihelat menjelang Ramadan. Tujuannya, untuk mendoakan para leluhur. Juga, seluruh anggota keluarga yang telah berpulang
“Acara rutin setiap bulan Ruwah,” ucap Ketua Panitia Nyadranan Hariadi kemarin.Kendati demikian, tradisi Nyadranan di kompleks Makam Sewu berbeda dengan ritual serupa di daerah lain.

Sejak se-puluh tahun lalu, ada rangkaian acara lain melengkapi tradisi ini. Yakni, kirab budaya. Menurut Hariadi, kirab budaya diikuti warga dari lima peduku-han di Kelurahan Wijirejo.

Ada gunungan dan jodhangan yang diarak dalam kirab yang mengam-bil start dari Kantor Kelurahan Wijirejo, dan finis di kompleks Makam Sewu ini.

Isi gunungan berupa berbagai hasil bumi. Itu mengandung pesan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun jodhangan berisi jajanan berupa ketan, kolak, dan apem.

“Ketan bermakna kesalahan. Kolak berarti yang telah lalu. Adapun apem dalam bahasa Arab berarti meminta maaf,” urainya.

Itulah pesan inti yang ingin disampaikan dalam tradisi Nyadranan. Hariadi mengung-kapkan, seluruh warga berdoa agar berbagai kesalahan dan dosa leluhur dan anggota ke-luarga mereka mendapatkan pengampunan.

“Di Makam Sewu ada makam penyebar agama Islam pertama di wilayah Wijirejo. Namanya Panembahan Bodho. Tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada beliau,” tuturnya.

Hariadi bercerita Panembahan Bodho hidup pada abad 15 Ma-sehi. Dia berasal dari Demak Bintoro. Dia disebut dengan Panembahan Bodho karena menolak pulang ke kampung halamannya untuk dijadikan bupati. Dia lebih memilih me-nyebarkan agama Islam di wilayah Wijirejo. (zam/ila/ong)