JOGJA – Adhis Prihantara, 28, tersangka kasus kecelakaan di Tugu Pal Putih atau Tugu Jogja, Minggu (29/5), terancam hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 12 juta.

Polisi menjerat koordina-tor promosi sebuah perusahaan rokok itu dengan pasal 310 ayat (2), (3), dan (4) UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ)
“Setelah kejadian kemarin, kami langsung olah tempat ke-jadian perkara (TKP) dan penge-mudi sudah ditetapkan tersang-ka. Sudah dimasukkan sel Polresta Jogjakarta,” kata Kasat Lantas Polresta Jogjakarta Kompol Sugiyanta kepada Radar Jogja, Senin (30/5).

Dari hasil olah TKP dan peme-riksaan kendaraan, Sugiyanta mengatakan, kondisi mobil yang dikemudikan tersangka layak jalan. Itu dibuktikan dengan kondisi ban yang masih baru dan proses pengereman yang berfungsi.

Selain olah TKP, kepolisian juga melakukan tes urine terhadap tersangka asal Rejasari, Purwo-kerto Barat, Banyumas itu. Sugi-yanta mengatakan, hasil tes ter-sebut negatif narkoba dan minu-man keras. “Jadi murni kelalaian, karena mengantuk,” ujarnya.

Kembali disinggung mengenai kejadian kecelakaan yang terjadi 2013 di Purwokerto, tersangka juga menyebabkan hilangnya dua nyawa, bapak dan anak.

Namun, pihaknya tidak bisa banyak me-ngomentari hal tersebut. Sebab, menurutnya, hal itu berada di luar kewenangannya. “Iya memang pernah terjadi, kecelakaannya hampir mirip, tiga tahun lalu. Tapi, itu di wilayah polda lain,” ungkapnya.

Termasuk juga apakah insiden tiga tahun lalu bisa memberat-kan hukumannya, menurutnya, hal itu menjadi pertimbangan hakim yang memutuskan vonisnya. Ditanyakan mengenai kemungkinan dicabutnya Surat Izin Mengemudi (SIM) tersang-ka, dia mengatakan, masih akan meninjau kembali.

Saat ini, SIM tersangka masih ditahan oleh kepolisian. Sugi-yanta mengatakan, pada bulan Agustus 2016 ini SIM yang ber-sangkutan habis masa berlakunya. “Kalau nanti akan membuat lagi, diuji ulang lagi termasuk psikologisnya. Bisa koordinasi dengan psikiater, karena dia kan sudah dua kali ini menyebabkan kecelakaan,” ucapnya.

Belum banyak yang tahu bahwa SIM bisa dilakukan pencabutan. Pencabutan SIM itu tertuang pada UU No 22 Tahun 2009 yang merupakan revisi dari UU 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Disebutkan dalam Pasal 89 yang terdiri dari 3 ayat 1 Kepolisian Negara Republik Indonesia ber-wenang memberikan tanda atau data pelanggaran terhadap surat izin mengemudi milik penge-mudi yang melakukan pelang-garan tindak pidana lalu lintas. Kemudian pada ayat 2 Kepoli-sian Negara Republik Indonesia berwenang menahan semen-tara atau mencabut surat izin mengemudi sementara sebelum diputus oleh pengadilan.

Sedangkan di ayat 3 Ketentuan lebih lanjut mengenai pembe-rian tanda atau data pelangga-ran sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 diatur dengan peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Kemudian Pasal 314 ditegaskan lagi bahwa SIM bisa dicabut. Bunyi lengkapnya, selain pi-dana penjara, kurungan, atau denda, pelaku tindak pidana lalu lintas dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan SIM atau ganti kerugian yang diakibatkan oleh tindak pidana lalu lintas.

Dirlantas Polda DIJ Kombes Pol MH Ritonga mengatakan, keputusan pencabutan SIM sepenuhnya berada di penga-dilan. Polisi hanya menyiapkan bahan materi yang ditujukan ke kejaksaan di pengadilan.

Polisi, kata perwira melati tiga di pundak itu, tidak memiliki kewenangan dalam mencabut SIM pengemudi yang melaku-kan pelanggaran.

“Yang menjatuhkan hukuman itu hakim di pengadilan. Ke-wenangan dicabut atau tidak itu tergantung hakimnya. Misal nanti tidak patut jadi penge mudi ya dicabut,” ujarnya.

Perintah pencabutan SIM itu, kata Ritonga, masuk dalam vonis yang dijatuhkan hakim. Namun, dia menjelaskan, jika menda-pati pengemudi yang sudah dicabut SIM-nya oleh pengadi-lan maka polisi tidak akan mem-berikan izin penerbitan SIM tersebut.

“Tidak ada ketentuan memang, tapi biasanya kalau sudah di-cabut (SIM), polisi tidak berani lagi ngasih. Sudah dicabut kok apalagi karena perkara pidana. Dulu karena belum online mung-kin belum ketahuan. Tapi se-karang sudah bisa diketahui,” ujarnya. (riz/ila/ong)