MAGELANG – Sepekan men-jelang bulan suci Ramadan, harga daging sapi di pasaran Kota Magelang cukup tinggi, mencapai kisaran Rp 110 ribu per kilogram. Namun para pe-dagang menilai harga ini relatif stabil dan kemungkinan akan naik saat masuk bulan puasa nanti.

Salah seorang penjual daging sapi di Pasar Rejowinangun Sri Mulyani, 45, mengatakan, har-ga daging sapi memang tidak melonjak seperti di kota-kota lain. Hal itu berhubungan dengan permintaan yang masih terbilang normal dengan persediaan ba-rang yang mencukupi.

“Harganya masih standar saja. Malahan turun dari sebelumnya Rp 113 ribu per kilogram. Ka-rena permintaan tidak banyak, hanya dari para pedagang bak-so. Sedangkan dari rumah tang-ga sedikit,” ujar Sri saat ditemui di lapaknya, kemarin (30/5).

Sri menuturkan, memang saat ini banyak digelar nyadran atau sadranan yang banyak membu-tuhkan bahan makanan. Namun untuk konsumsi daging relatif minim, karena para pembeli lebih memilih alternatif lain seperti daging ayam atau ikan sebagai hidangannya.

“Harga di bagian lain juga sta-bil, seperti tulang iga Rp 65 ribu per kilogram, hati Rp 60 ribu, babat dan usus Rp 50 ribu, dan tetelan Rp 60 ribu. Mungkin pas puasa nanti harganya naik, ka-rena biasanya banyak yang men-cari daging,” kata pedagang yang mengaku setiap hari dapat men-jual sekitar 100 kg ini.

Pedagang daging sapi lain, Zaidah, 40, mengatakan, harga daging sapi relatif stabil. Harga Rp 110 ribu per kilogram untuk daging bersih kualitas bagus, sedangkan Rp 105 ribu per ki-logram untuk daging yang ma-sih ada tulang belulangnya. Dia juga mengatakan tidak mungkin bisa memberikan harga seperti yang diintruksikan presiden.

“Ya kalau harus dijual Rp 90 ribu per kilogram ribu tetap be-lum bias. Kulakannya di rumah pemotongan hewan (RPH) saja Rp 86 ribu per kilogram untuk daging yang masih bercampur dengan tulang belulang. Itu pun saya memisahkan sendiri an-tara daging dan tulangnya,” pa-parnya.

Untuk pemasaran di pasar tra-disional, daging semuanya me-makai sapi lokal. Selain lebih segar, juga lebih mudah dalam menjual ke konsumen. Pem-beli pun lebih suka membeli daging lokal dibanding impor yang sudah melalui proses pem-bekuan.

“Untuk saat ini masih mudah mencari hewan sapi, karena ter-sedia cukup banyak. Hanya saja untuk kondisi pasar saat ini me-mang sedang tidak terlalu baik, banyak sepinya,” ungkap Zaidah yang menjual sekitar 50 kilogram daging per hari. (cr1/laz/ong)