BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
KOMPAK:Sejumlah anggota KOMPOR bersama hewan peliharaannya saat menggelar sebuah pertemuan beberapa waktu lalu.

Buktikan Musang Juga Bisa Jadi Teman Yang Baik

Bagi masyarakat perdesaan, musang adalah hama yang sering menghabiskan populasi ternak unggas. Di tangan komunitas ini, hewan ini justru bisa menjadi teman. Apa yang mereka lakukan?
BUDI AGUNG, Purworejo
Bagi anggota komunitas ini, jika dirawat dengan baik, musang bukanlah hama. Tetapi justru menjadi sahabat yang imut. Bahkan bernilai ekonomi.

Ya, hewan-hewan dengan dominan warna kemerahan itu memang menjadi bernilai ekonomis di tangan Muhammad Faizin dan Bowo. Keduanya adalah penggagas berdirinya Komunitas Musang Purworejo (Kompor).

Hanya saja, dalam perkembangannya mereka tidak hanya memanfaatkan musang desa. Tetapi juga merambah berbagai jenis musang yang lain.

Sebagai langkah awal untuk mulai mengenalkan hobi memelihara musang, keduanya untuk perhatian dalam kegiatan Car Free Day (CFD) yang digelar setiap Minggu pagi di Alun-alun Purworejo. Seiring perkembangan waktu, komunitas yang berdiri pertengahan 2014 itu kini telah beranggotakan puluhan orang. Komunitas ini berkumpul ada di seberang kantor Korpri Purworejo di Jalan Setyabudi. “Sebagian besar berusia muda,” kata Acing- sapaan akrab Muhammad Faizin kemarin (1/6).

Untuk bisa bergabung dengan komunitas ini syarat utamanya adalah kepemilikan salah satu musang dari beragam jenis yang ada. Setiap pertemuan Minggu, mereka saling berbagi tips maupun informasi. “Masyarakat juga bisa melihat aktivitas kami,” ujar Acing.

Kepemilikan hewan tersebut, bagi anggota komunitas ini juga masih terbatas dan sederhana. Memang, ada anggota yang sudah menempatkan hewannya dalam kandang yang representatif. Namun ada juga yang masih sangat sederhana. Misalnya memanfaatkan tas beresleting biasa untuk membawa hewan kesayangannya. “Yang penting serikulasi udaranya lancar. Sekaligus menunjukkan kepada masyarakat sebenarnya apa yang kita bawa,” imbuh Acing.

Menruutnya, musang menjadi hama karena di lingkungan tempat mereka tinggal tidak ada sumber makanan yang lain. Padahal jika ada buah-buahan, tentu mereka tidak akan memangsanya. “Berbeda dengan jenis gangrangan atau blacan,” tambahnya.

Untuk merawat musang, menurut Acing relatif lebih mudah dan tidak pelik dibandingkan merawat kucing. Kotoran yang dihasilkan pun tidak akan menimbulkan bau seperti halnya kotoran kucing. “Karena sumber makannya buah-buahan. Tidak akan berbau menyengat seperti kucing,” jelasnya.

Untuk bisa mendapatkan musang, salah satu anggotanya Chandra menyatakan bahwa dirinya masih harus membeli. Namun KOMPOR saat ini tengah mencoba untuk melakukan breeding sebagai upaya pengembangannya. “Asal dipelihara sejak kecil, musang-musang itu jinak kok. Dan tidak akan menyakiti,” ujar Chandra. (din/ong)