ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
KENA BATUNYA : Dua mucikari saat ditunjukkan kepada para wartawan beserta barang bukti yang disita di Mapolres Bantul, kemarin (1/6).
BANTUL – Modus praktik prostitusi kian beragam dan semakin canggih. Seperti yang dilakukan Jati Rahayu alias Yayuk, 43, warga Keniten, Tamanmartani, Kala-san, Sleman, serta Noor Hidayati alias Maya, 50, warga Dusun Krebet, Sendang-sari, Pajangan.

Berbekal komunikasi via media sosial (medsos) WhatsApp, kedua mucikari ini menjajakan belasan gadis belia sebagai pekerja seks komersial (PSK). Kini, kedua mucikari yang saling mengenal ini men-dekam di tahanan polres Bantul.

“Praktik mereka sudah setahunan ini (bisnis pros-titusi keduanya),” jelas Kasat Reskrim polres Bantul AKP Anggaito Hadi Pra-bowo di Mapolres Bantul, kemarin (1/6).Terbongkarnya bisnis prostitusi online ini berkat laporan masyarakat.

Mereka menyebutkan di kawasan Pantai Parang-tritis dan Pajangan kerap dijadikan ajang mesum. Kendati demikian, Anggaito me-ngatakan, pengungkapan praktik prosti-tusi ini membutuhkan waktu cukup lama. Mengingat, modusnya yang cukup rapi sekaligus tertutup.Polisi baru bergerak setelah mengendus indikasi adanya transaksi.

Hal itu pula yang dilakukan kepolisian sebelum meng-gerebek Yayuk di salah satu losmen di kawasan Pantai Parangtritis Jumat (20/5) lalu. Di lokasi penggerebekan, polisi juga mengamankan seorang PSK beserta se-jumlah barang bukti. Di antaranya, empat lembar uang Rp 100 ribu, empat unit handphone, dan pakaian dalam berwarna merah muda.

“Jadi, Yayuk mengantarkan anak buahnya (PSK) untuk menemui tamunya,” ucapnya.

Tak lama kemudian, polisi giliran menga-mankan Maya di homestay miliknya yang terletak di Dusun Krebet, Sendangsari, Pajangan. Saat diamankan, Maya tengah melayani hidung belang.Di lokasi ini, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain, dua unit handphone, tiga lembar uang Rp 100 ribu, tanktop, dan satu pakaian dalam berwarna ungu.Bekas Kasat Res Narkoba polres Sleman ini menguraikan, modus kedua muci-kari ini serupa.

Keduanya menjajakan belasan gadis yang dijadikan PSK melalui medsos WhatsApp. Foto-foto dan usia PSK dikirim dan dijelaskan melalui Whats-App kepada hidung belang yang mem-butuhkannya. “Setelah deal baru menunjuk lokasi pertemuan,” bebernya.

Dari pemeriksaan juga terungkap, kedua mucikari ini mematok tarif di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu untuk sekali kencan. Besar-kecilnya tarif ini tergantung usia PSK. Tarif ini masih di luar sewa ka-mar losmen atau homestay. Menurutnya, Yayuk kerap berganti-ganti losmen sebagai lokasi pertemuan. Adapun Maya hanya menjadikan home-stay miliknya.

“Saudari Yk (Yayuk) punya 7 sampai 8 orang (PSK). My (Maya) seki-tar 4 sampai 5 orang,” sebutnya.

Yang pasti, PSK anak buah Yayuk dan Maya yang diperiksa polres Bantul seba-nyak 11 orang. Mereka hanya dijadikan saksi dan diwajibkan lapor setiap Senin dan Kamis. Dari keterangan mereka, ada yang senga-ja terjun sebagai PSK karena terhimpit persoalan ekonomi. Ada pula yang karena mendapatkan iming-iming menggiurkan dari Yayuk dan Maya. (zam/din/ong)