HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
HIDUP DARI AIR: Dirut PDAM Tirtamarta Dwi Agus Triwidodo (kiri) kembali menjabat sebagai Dirut PDAM Tirtamarta hingga 2020 mendatang.

Kelola Pipa Tinggalan Belanda, Air Baku Terus Turun

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat itu ternyata sangat tepat bagi Direktur Utama PDAM Tirtamarta yang baru dilantik di Balai Kota Jogja, kemarin (1/6). Berkat pengalaman segudang mengenai dunia air, Dwi Agus Triwidodo kembali menjabat jabatan orang nomor satu di perusahaan berpelat merah tersebut sampai 2020 mendatang.

HERI SUSANTO, Jogja
MASIH ingat dengan sebuah iklan di te-levisi akan ramalan tentang nasib bebera-pa tahun lalu. “Kamu tidak cocok bekerja di air”. Begitulah kira-kira penggalan kalimat dari sang peramal kondang Joko Bodo. Joke ramalan itu tampaknya tak tepat bagi Direktur Utama PDAM Tirtamarta Dwi Agus Triwidodo.

Bagi Dwi Agus, hidup-nya selama ini justru dari air tersebut. Bahkan, keahliannya mengelola distri-busi air ke masyarakat menempatkan dirinya berada di puncak karir. Dwi Agus, sapaannya, memang bukan orang baru. Dia telah lama berada di pe-rusahaan air minum tersebut.

Tak tanggung-tanggung, sudah lebih dari 15 tahun dia bekerja di PDAM Tirtamarta. Dwi Agus menapaki karir dari bawah. Dia pernah menjadi pegawai dari perusahaan yang mendapatkan penghargaan PDAM Terbaik se-Indonesia tahun 2013 ini. “Tantangn semakin sulit,” katanya singkat mengenai karirnya ke depan.

Perjuangan perusahaan yang berdiri sejak tahun 1918 ini memang terus menghadapi tantangan zaman. Jika saat itu PDAM menda-patkan suplai air dari Karanggayam dengan de-bit 20 liter per detik, kini sumber air kian sulit.Pada tahun tahun 1923-1925, perusahaan ini mampu mendapatkan suplai air dari Umbul Lanang di Kali Kuning dengan de-bit 100 liter per detik.

Itu saat PDAM masih menggunakan nama Belanda, Hoogdrink Water Leiding Bedrijf. Kemudian, tahun tahun 1930 sumber Umbul Lanang terke-na bencana alam erupsi Gunung Merapi dan selesai direhabilitasi tahun 1936. Sumber itu baru bertambah pada tahun 1985.

PDAM Tirtamarta menambah be-berapa sumber dari sumur dalam. Sedang-kan beberapa sumber yang langsung dari mata air Gunung Merapi sudah berangsur-angsur berkurang.

“Sekarang tantangannya pelanggaran semakin banyak juga. Sementara kondisi air baku kian menipis,” jelasnya.

Apalagi, kini jumlah pelanggan mencapai 34.800 pelanggan. Sementara total sumur dalam mencapai 39 titik yang debitnya menurun setengah liter tiap tahun. Produksi air bersih yang bisa didistribu-sikan mencapai 550 liter per detik. Jika pelanggan mencapai angka 35 ribu pelang-gan, maka distribusi air bisa semakin kecil.

“Harapan kami mengandalkan tambahan debit air dari Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) regional yang diambilkan dari Kali Progo,” jelasnya.

Jika SPAM itu sukses, lanjut Dwi Agus, PDAM Tirtamarta bisa kembali berjaya seperti za-man awal pendirian lalu. Mereka bisa men-cukupi semua kebutuhan pelanggan. “Tidak kapiran saat beban puncak,” katanya.

Tantangan yang tak kalah serius adalah umur pipa. Warisan Belanda tersebut kini sudah banyak mengalami kebocoran. Bahkan, tingkat kebocoran air mencapai 38 persen.

“Tiap tahun hanya bisa ditekan hingga dua persen,” katanya. Padahal, panjang pipa PDAM Tirtamarta ini mencapai 900 kilo-meter. “Sekitar 30 persennya merupakan pipa lama sejak,” jelasnya. (ila/ong)