JOGJA – Perkembangan politik jelang pendaftaran calon wali kota (cawali) dan calon wakil wali kota (cawawali) mulai menguat. Dua Bakal calon (balon) wali kota petahana dipastikan bakal cerai di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017.Ini setelah keduanya, Haryadi Suyuti dan Imam Priyono, sudah mendapatkan garansi dari masing-masing partai politik (parpol) yang akan mengusungnya. Memang baru dua parpol yang menunjukkan kepastian.

PDIP kian kuat men-gusung Imam Priyono yang berada di ranking pertama kala ditawarkan ke parpol lain. Begitu pula dengan Haryadi Suyuti, Partai Golkar sudah menggaransi HS, sapaan Haryadi Suyuti, mendapatkan tiket dari beringin di pilwali nanti. “Saat berkomunikasi dengan parpol lain, kami membawa nama Pak Haryadi untuk posisi balon wali kota,” tandas Ketua DPD Partai Golkar Kota Jogja Augusnur, kemarin (1/6).

Dia menegaskan, secara resmi DPP Partai Golkar memang belum mengeluarkan rekomendasi ter-hadap wakil wali kota 2006-2011 itu. Tapi, partai yang kini dipimpin Setyo Novanto itu sudah membe-rikan restu informal kepada DPD untuk konsolidasi mengusung Haryadi Suyuti.

“Rekomendasi tertulis belum,” katanya.

Restu DPP itu, lanjut Ketua Ko-misi A DPRD Kota Jogja, merupakan modal penting bagi partainya menjalin komunikasi. Saat ini, Partai Golkar tinggal mencari rekan koalisi yang bersedia men-gusung HS maju di pilwali.

“Harapan kami bisa terjalin kese-pakatan besar dengan parpol-parpol lain untuk membangun Kota Jogja bersama-sama,” jelasnya.

Raihan kursi Partai Golkar di DPRD Kota Jogja memang mem-buat mereka harus berkoalisi dengan parpol lain untuk bisa lolos mengusung balon. Partai Golkar yang mendapatkan lima kursi berencana menggandeng Partai Gerindra, PKS, PAN, PPP, dan Partai Demokrat. Mereka berharap dengan modal 24 kursi cukup kuat untuk bisa meme-nangkan pilwali.

Ajakan Partai Golkar ini tak ber-tepuk sebelah tangan. PKS me-nyambut positif untuk membangun koalisi terkuat. Bahkan, PKS tak sepenuhnya menerima ajakan koalisi Partai Gerindra jika tak mengusung figur kuat.

“Selama dua kali pilwali langsung, kami belum pernah menang. Jadi, koalisi terkuat nantinya yang akan kami pilih,” tandas Ketua DPD PKS Kota Jogja Muhammad Syafii.

Syafii menjelaskan, hubungan dengan Partai Gerindra saat ini baru sebatas penjajakan koalisi saja. PKS sama sekali belum melakukan kesepakatan apa pun terhadap parpol untuk berkoalisi dalam pilwali mendatang.

“Kami juga tidak bisa melakukan MoU. Karena, semua (keputusan) sekarang ini berada di DPP,” jelas mantan wakil rakyat di DPRD Kota Jogja itu.

Politikus yang tinggal di Notopra-jan, Ngampilan ini mengungkap-kan, target koalisi PKS tetap untuk memenangkan pilwali. Makanya, koalisi dengan mengusung figur terkuat yang akan mereka usung. “Instruksi dari DPP bisa meme-nangkan pilwali,” katanya.

Di lain pihak, Partai Gerindra yang telah melakukan pendaftaran secara terbuka belum menunjuk-kan kepastian balon wali kota yang diusung. Di internal Gerindra saat ini masih terdapat dua kubu, antara yang berkeinginan mengusung Syauqi Soeratno maupun Haryadi Suyuti.Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja Anton Prabu Semendawai mengaku, masih menimang-nimang dua kandidat terkuat tersebut. “Dua-duanya sama-sama kuat. Kami masih melihat beberapa aspek parameter lain,” kata Anton.

Anggota Komisi C DPRD DIJ ini mengatakan, Partai Gerindra tak akan grusa-grusu untuk segera mengeluarkan rekomendasi. “Belum pasti (Pak Haryadi). Semua itu berada di ranah DPP,” kilahnya. (eri/ila/ong)