BANTUL – Pemkab Bantul serius menggarap sektor pendidikan. Sete-lah menelurkan kebijakan pembeba-san ribuan ijazah yang tertahan, Bu-pati Bantul Suharsono kembali meng-gulirkan kebijakan baru. Pensiunan perwira menengah Pol-ri ini mengeluarkan dua peraturan sekaligus terkait larangan membawa handphone di lingkungan sekolah. Regulasi pertama dengan sasaran siswa.

Sasaran regulasi berikutnya adalah tenaga pengajar. Semangat digulirkannya dua regulasi ini demi meningkatkan mutu pendidikan di Bumi Projotamansari.Kepala Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Totok Sudarto menjelaskan bahwa regulasi yang melarang siswa membawa handphone di lingkungan sekolah berupa peraturan bupati (per-bup). Penggodokan materinya sudah memasuki tahap final. “Diberlakukan mulai tahun ajaran 2016/2017,” jelas Totok, kemarin (1/6).

Kendati bersifat larangan, tidak ada sanksi dalam perbup ini. Siswa SD dan SMP yang kedapatan melanggar ketentuan ini dengan membawa hand-phone di lingkungan sekolah hanya akan ditegur. Handphone-nya juga hanya akan disita untuk sementara waktu. “Setelah jam pulang, ya, di-kembalikan,” ujarnya.Agar berjalan efektif, Totok mengim-bau para wali murid kooperatif. Wali murid disarankan tidak sembarangan membelikan anaknya handphone.

Mengingat, ada dampak negatif di balik gadget canggih itu. Selain mengganggu fokus belajar, tak jarang aksi kekerasan seksual yang melibatkan anak di bawah umur belakangan ini dipicu foto maupun video seronok yang mudah diakses melalui handphone. Karena itu, sekolah tidak akan segan-segan memanggil wali murid bila ada siswa yang handphone-nya terdapat foto maupun video tak senonoh. “Ke-marin ada siswa kelas VII (salah satu sekolah di Bantul). Isi hape-nya gam-bar aeng-aeng itu,” bebernya.

Totok menyadari potensi pro dan kontra terkait rencana penerapan perbup ini. Kendati begitu, Totok me-negaskan, dibutuhkan terobosan menyikapi perkembangan era digital.

“Kalau nggak ada terobosan nanti repot,”jelasnya.Berbeda dengan larangan bagi siswa, regulasi yang melarang tenaga peng-ajar membawa handphone hanya berupa surat edaran (SE) bupati. Mes-ki demikian, SE bupati ini akan di-pertajam dengan SE kepala Dikdas.

Berbeda pula dengan siswa, dalam SE ini tenaga pengajar hanya dilarang membawa handphone ke dalam ruang kelas. “Biar guru konsentrasi dan fo-kus dalam pembelajaran,” tegasnya.

Menurut Totok, tugas seorang guru memang tidak mudah. Sebab, guru juga dituntut bisa menjadi teladan bagi seluruh siswanya. Sekaligus se-bagai motivator ulung. “Karenanya saat mengajar guru tidak boleh duduk manis,” tandasnya.

Plt Kepala Sekolah SMP N 1 Bantul Yasmuri mengapresiasi terbitnya dua regulasi tersebut. Sebab, bidang pen-didikan memang butuh terobosan baru menyikapi perkembangan zaman.

“Seharusnya memang begitu,” tuturnya.Bagi Yasmuri, penerapan dua regu-lasi ini tidak begitu sulit. Toh, SMP N 1 Bantul jauh-jauh hari telah mene-rapkannya. Yang menjadi persoalan justru kesadaran para guru.

Pria asal Dlingo ini menceritakan, ada bebe-rapa guru di SMP N 1 Bantul yang nekat membawa handphone ke dalam ruang kelas. Meskipun sekolah telah melarangnya. “Solusinya setiap rapat guru selalu ada imbauan dan briefing,” ucapnya. (zam/din/ong)