JOGJA – Gangguan cuaca kini menimpa di DIJ dan sekitarnya. Awal musim kemarau yang biasanya Juni, bisa mundur sampai dengan 30 hari ke depan. Proyek fisik pun terancam terganggu. Seperti pembangunan talud Kali Code di Surokarsan, Mergangsan, Jogja.Pekerja harus mengejar waktu.

Terlebih, perbaikan talud akibat gerusan air Sungai Code itu harus me-normalisasi gundukan pasir. “Ya kalau hujan sulit untuk bisa selesai cepat waktu,” ujar Kepala Bidang Drainase dan Pengairan Dinas Permukiman dan Prasana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja Aki Lukman, kemarin (1/5).

Aki mengungkapkan, perbaikan talud Surokarsan itu sempat mengalami mundur setahun. Ini karena saat lelang tak ada yang berminat.

“Targetnya dalam waktu 75 hari bisa selesai,” tandas Aki.

Talud Sungai Code yang masuk wilayah Surokarsan men-jadi satu dari beberapa titik talud yang rusak akibat luapan air sungai pada April 2015 silam. Namun, talud ter-sebut menjadi satu-satunya talud yang gagal diper-baiki tahun lalu karena gagal lelang.

Pada lelang pertama, pemenang lelang dinyatakan tidak mampu memenuhi spesifikasi teknis yang disyaratkan sehingga lelang harus diulang. Namun, pada saat dilakukan lelang ulang tidak ada peminat sehingga lelang dinyatakan gagal.

“Yang pasti, dana untuk perbaikan talud di Suro-karsan sudah masuk dalam anggaran tahun ini. Masyarakat diminta tetap bersabar,” katanya.

Panjang talud di Surokrasan yang akan diperbaiki mencapai 35 meter dengan dana sekitar Rp 550 juta. Perbaikan talud dilakukan di sisi timur sungai, namun dinas akan melakukan normalisasi Sungai Code di sisi barat. Sebab, ada semacam gundukan tanah yang mempengaruhi aliran sungai.

“Harapannya, proses lelang berjalan lancar sehingga diperoleh pemenangnya. Pekerjaan pun bisa dila-kukan tanpa terkendala cuaca. Apalagi saat ini ma-sih sering turun hujan,” keluhnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Kli-matologi, dan Geofisika Jogjakarta Joko Budiyono mengungkapkan, musim kemarau tahun ini diperki-rakan akan mundur. Ini karena curah hujan melebihi 150 milimeter per bulan.

“Temperatur selatan Jawa kenaikan hangat. Dampaknya uap cukup besar yang membuat awan hujan lebih besar,” katanya.

Joko mengatakan, penyebab hujan yang lain adalah adanya faktor tekanan rendah konvergensi angin. Pertemuan angin tersebut otomatis membuat awan cumulus nim-bus atau awan hujan di langit Jogjakarta. (eri/ila/ong)