SLEMAN – Jelang Ramadan, sejumlah salon dan spa yang diduga sebagai lokasi prostitusi terselubung dirazia. Salah satunya di kawasan Kalasan, Sleman. Di sana ada lima lokasi yang disambangi oleh petugas Polsek Kalasan, BNN Sleman, Puskesmas Kalasan, dan Satpol PP. Hasilnya, terdapat dua terapis yang dinyatakan terjangkit penyakit menular seksual (PMS). Hal itu diketahui setelah dilakukan tes darah.

Keberadaan terapis yang terkena PMS mengindikasikan adanya kegiatan prostitusi di tempat-tempat tersebut. Hanya, petugas tidak berhasil menemukan pelanggan yang tengah melakukan prostitusi. Namun, dari tiga lokasi yang digeledah, petugas menemukan puluhan kondom berbagai warna.

Kondom-kondom tersebut ditemukan di setiap kamar dan meja kasir. Penemuan kondom di lokasi salon dan spa, menurut Camat Kalasan Samsul Bakri, menguatkan dugaan adanya transaksi seks.

“Kami hanya bisa memberikan laporan yang kami temukan ke pihak kabupaten sesuai yang memberikan izin. Akan seperti apa tindakan ke depannya kami serahkan ke pemkab,” jelas Samsul di sela-sela razia, kemarin (2/6).

Dalam razia kemarin, setiap pemilik dan pelayan salon diwajibkan melakukan tes urine dan darah untuk mengetahui kadar narkoba yang terkandung di dalam tubuh. Dari hasil tes narkoba, tidak ditemukan satupun pemilik dan pelayanan terindikasi menggunakan narkoba.

Sementara bagi terapis yang terkena PMS, pihak kecamatan menyerahkan ke dinas kesehatan untuk nantinya mendapatkan perawatan. Menurut Samsul, keberadaan salon dan spa di Kalasan merupakan pindahan dari Jalan Monjali dan Jalan Kabupaten, Sleman. Bahkan, para terapis yang bekerja pun kebanyakan berasal dari luar DIJ seperti Jawa Tengah dan Sumatera.

Sementara, Kapolsek Kalasan Kompol Heli Wijayanto menegaskan, pihaknya berharap agar aktivitas spa dan salon yang diduga sebagai lokasi prostitusi terselubung ditutup. “Kami sudah memberikan peringatan kepada 15 salon dan spa agar praktik di lapangan sesuai perizinannya,” jelasnya.

Pengelola Eveline Spa di Jalan Jogja-Solo Sugiyantoro mengaku akan menaati aturan yang berlaku. Dia mengaku mempekerjakan lima karyawan di spa tersebut. Salah satu terapisnya, ternyata membawa lima alat kontrasepsi. “Selama awal Ramadan kami tutup seminggu,” katanya.

Sesuai dengan aturan, usaha hiburan diwajibkan tutup di pekan pertama bulan puasa. Ini mengacu pada Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 26 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Usaha Hiburan Umum, Rumah Makan, Restoran dan Hotel pada Bulan Puasa dan Idul Fitri.

Berdasarkan perbup tersebut, usaha hiburan umum yang meliputi kafe, karaoke, game net, game station, game centre, salon, spa, panti pijat/refleksi, dan usaha lain sejenis wajib tutup. Selain itu untuk jam operasional juga harus menyesuaikan. Untuk usaha hiburan kafe, karaoke, dan usaha lain sejenis dimulai pukul 21.00 hingga 24.00.

Usaha game net, game station, game centre, dan usaha lain sejenis dimulai 09.00 hingga 17.00 untuk siang hari dan pukul 21.00 hingga 24.00 untuk malam hari. Sedangkan salon, spa, panti pijat refleksi dan usaha lain sejenis dimulai pukul 09.00 hingga 17.00.

Kepala Satpol PP Sleman Joko Supriyanto menjelaskan, aturan itu dimaksudkan untuk menjaga suasana kondusif selama puasa. Bagi pegawainya juga diimbau menyesuaikan. Dengan berpakaian yang sopan. “Mereka juga kami minta untuk bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan ketentraman dalam penyelenggaraan usahanya,” jelasnya.

Sedangkan bagi yang melanggar, lanjutnya, penindakan yang dilakukan dengan mencabut izin gangguan (HO) yang dimiliki oleh pelaku usaha. (bhn/ila/ong)