DWI AGUS/RADAR JOGJA
UNTUK MALIOBORO: Pameran kaligrafi yang diadakan di Malioboro belum lama ini menjadi salah satu upaya untuk membuat suasana jantung kota Jogja ini kian nyaman.

Hidupkan Roh Berkesenian, Makin Nyaman Jalan-Jalan

Sebagai jantung kota, kawasan Malioboro, menjadi satu daya tarik tersendiri. Baik bagi warganya, maupun wisatawan yang datang ke DIJ. Belum lengkap rasanya jika tak menyempatkan jalan-jalan dan berbelanja di sana. Kini, Malioboro terus bersolek.

DWI AGUS, Jogja
MALIOBORO terus dibenahi. Tak hanya dari sisi fisiknya saja, melainkan juga suasananya dibuat senyaman mungkin. Hingga saat ini, perbaikan terase modern pengganti trotoar masih dikerjakan. Namun, semangat untuk membuat suasana di Malioboro tetap nyaman untuk dikunjungi terus dilakukan.

Seperti yang dilakukan oleh warga di seputar Malioboro, yang di dalamnya terdapat pedagang, juru parkir (jukir), pemilik toko serta seniman. Bersama-sama “penghuni” Malioboro bersinergi untuk mewujudkan kenyamanan di sana.

Belum lama ini, kawasan pedestrian, tepatnya berada di depan Malioboro Mal, dihiasi lukisan-lukisan kaligrafi. Bertajuk Pameran Kaligrafi Jalanan Malioboro, pameran ini digagas oleh Paguyuban Kawasan Malioboro.

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro Putra Sujarwo mengatakan, konsep pameran ini untuk mendekatkan seni kaligrafi. Selama ini, menurutnya, seni kaligrafi cenderung dipamerkan secara selektif. Mulai dari galeri seni, hotel hingga masjid-masjid di Jogjakarta.

“Upaya untuk mendekatkan kaligrafi dengan masyarakat. Agar masyarakat merasa memiliki dan mengetahui lebih dekat seni kaligrafi. Menghapus pula kesan eksklusif dengan ditampilkan di jalanan seperti ini,” kata Sujarwo.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pameran ini juga upaya promosi Malioboro. Termasuk mendukung gerakan Love Malioboro : Come, Visit and Shop. Seperti yang diketahui kawasan Malioboro merupakan kawasan industri kreatif. Di Malioboro, lanjutnya, banyak seniman dan penjual produk kreatif. Pameran ini harapannya dapat menguatkan kembali aura seni di Malioboro. Terutama pascapenataan Malioboro yang masih berjalan hingga saat ini.

“Turut mendorong pertumbuhan ekonomi di Malioboro dengan ragam seni dan industri kreatifnya. Untuk itu, kami juga turut bekerja sama dengan Masjid Malioboro dan Pusat Studi Kaligrafi UIN Sunan Kalijaga,” jelasnya.

Pameran ini menghadirkan 100 karya kaligrafi dari 22 seniman yang terlibat. Meski hanya berlangsung satu hari, akhir Mei lalu, pada pameran ini mampu mencuri perhatian pengunjung. Terbukti banyaknya pengunjung yang menghentikan langkah mereka di lokasi pameran.

Sebelumnya, para pedagang kaki lima (PKL), angkringan, lesehan dan lainnya di Malioboro kompak mengenakan busana adat Jogja yang dilakukan oleh Paguyuban Ibu-Ibu Kawasan Malioboro (PI2KM). Meski acaranya juga hanya sehari, kala itu bisa membuat suasana Malioboro semakin menarik.

Kepala UPT Malioboro Syarief Teguh mengungkapkan, pemerintah daerah mendukung semangat para stake holder di Malioboro yang mendukung iklim berkesenian di Jogjakarta. Termasuk memfasilitasi bagi para seniman untuk unjuk karya di Malioboro.

Dia mengungkapkan, upaya untuk mendukung seniman tak hanya sampai di sini. Saat ini yang diperlukan adalah kebijakan yang pas. Terutama untuk menyediakan fasilitas dan sistem tata kelola Malioboro. “Roh berkesenian di Malioboro sangat kuat. Ini tentu tak hanya menjadi tugas UPT Malioboro saja, tapi juga beberapa elemen lainnya,” katanya. (ila/ong)