JOGJA – Momentum Ramadan benar-benar dimanfaatkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jogja. Mulai Ramadan mendatang, Baznas akan membuka gerai-gerai pembayaran zakat dan sodaqoh di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Jogja. Juga, ke pasar tradisional.

Pelaksana Baznas Kota Jogja Bidang Pungutan Deni Riani menjelaskan, untuk mempermudah pembayaran zakat dari muzaki, pihaknya akan melakukan jemput bola. Bentuknya, selain dengan panggilan telepon juga dengan membuka gerai di tempat pusat perekonomian.

“Yang sudah siap di Titik Nol Kilometer. Di sekitar Benteng Vredeburg, nanti kami akan siap satu gerai. Satu lagi di Pasar Beringharjo,” jelas Deni, kemarin (2/6).

Dia mengatakan, untuk pungutan tersebut, pihaknya juga akan melakukan di pusat-pusat perbelanjaan. Saat ini, pihaknya masih menjalin komunikasi dengan pengelola mal untuk kerjasama pemungutan pajak tersebut. “Jika biasanya pembagian zakat mengantre, kami akan coba balik. Bayar zakat yang mengantre,” ungkapnya.

Selain pungutan, untuk penyaluran zakat, Baznas telah menyiapkan beberapa program unggulan. Yang paling baru adalah Pesantren Dhuafa. Ini akan menyasar kalangan ekonomi kecil untuk belajar agama selama 20 hari. “Siang mereka (peserta pesantren) bisa bekerja. Sore hari jelang berbuka, kami akan buka pengajian, sejak asar sampai habis subuh,” jelas Wakil Ketua III Bagian Perencanaan Keuangan dan Pelaporan Marsudi Endang Rejeki.

Marsudi mengatakan, untuk akhir dari kegiatan itu, peserta mendapatkan zakat berupa mal dan fitrah dari muzaki.

“Ini bentuk pemberdayaan. Kami berkeinginan pembagian zakat tidak mengantre,” jelasnya.

Makanya, kegiatan distribusi zakat ini mereka inovasi dengan banyak kegiatan. Selain Pesantren Dhuafa, mereka juga menyiapkan sodaqoh untuk penjaga masjid. Terutama penjaga masjid yang masuk kriteria kurang mampu.

“Juga masuk dalam jaringan Dewan Masjid Indonesia,” katanya.

Hasil pengumpulan zakat, infak, dan sodaqoh di Baznas Kota Jogja ini termasuk besar. Setiap bulan, jika bukan Ramadan, mereka bisa mengumpulkan sampai Rp 350 juta. “Sedangkan Ramadan tahun lalu alhamdulillah, mencapai Rp 480 juta,” jelasnya.

Tahun ini, Marsudi optimistis akan mengalami kenaikan. Ini seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya berzakat. “Saat ini sudah banyak masyarakat yang paham bahwa diantara harta kita, ada hak orang lain,” tutur Marsudi. (eri/ila/ong)