TIDAK berputarnya roda kom-petisi pada tahun 2015 membuat Sarjono harus menjaga sendiri fisik dan kebugarannya. Caranya, dengan joging dan rajin melaku-kan latihan ringan. Ditambah dengan sesekali melakukan renang.

“Dulu bapak selalu bangunin pagi untuk joging. Lama-kelama-an sudah menjadi kebiasaan. Bapak selalu bilang, untuk men-jadi pesebakbola, yang paling utama adalah fisik,” katanya
.Pria kelahiran 1995 tersebut sering dipasang Sajuri saat timnya men-galami kebuntuan. Seperti saat di-jamu Persinga Ngawi, 28 Mei lalu di Stadion Wilis. Masuknya Sarjono di babak kedua membuat serangan Persiba lebih hidup.

Puncaknya ketika kemelut di area penalti Per-singa pada menit 77 yang berbuah tendangan 12 pas. Johan Manaji dengan dingin menaklukan kiper M Pujiantoro dan merubah kedu-dukan menjadi 0-1 untuk tim tamu.

“Sarjono itu supersub kami. Dia pemain pekerja keras. Sarjono mampu mengubah alur pertan-dingan,” jelas Sajuri.

Berposisi sebagai pemain sayap dan memiliki tenaga ekstra, Sarjo-no mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan. Salah satu pemain lokal Persiba di kom-petisi ini memiliki skill mum-puni dan fisik yang enerjik, mem-buat banyak digandrungi para suporter.

Hampir di setiap laga Persiba Bantul, suporter selalu menyerukan nama pemain yang satu ini. Sarjono menjadi harapan publik Bantul untuk bisa men-jadi pemain andalan Persiba Bantul. (cr4/dem/ong)