SLEMAN-Ditemukannya puluhan alat kontrasepsi berupa kondom dan terapis yang terjangkit penyakit menular seksual (PMS) dibeberapa salon dan spa di Sleman, menjadi keprihatinan dewan setempat. Anggota Komisi D DPRD Sleman Gustan Ganda mendorong pemkab tegas menegakkan aturan. Sehingga tidak ada lagi penyimpangan aktivitas salon dan spa yang bisa mencoreng dunia pariwisata. Karena sesuai dengan Perda Nomor 15 Tahun 2012 tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata, salon dan spa bagian dari dunia pariwisata di Sleman.

“Pemerintah harus tegas dalam pemberian izin peruntukan. Setelah izin HO (gangguan) turun, pengawasan harus terus dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan,” kata Ganda kepada Radar Jogja kemarin (3/6).

Indikasi penyimpangan salon dan spa menjadi tempat mesum, harus segera di atasi oleh pemkab. Jangan sampai, persoalan penyakit masyarakat tersebut dibiarkan. Bila perlu, pemkab dengan tegas mencabut izin usaha bila kedapatan membandel dan tidak bisa dibina.

“Memang harus ada prosesnya. Bagaimanapun juga kegiatan usaha salon dan spa ini membawa manfaat. Kalau terindikasi ada penyimpangan lakukan pembinaan. Kalau sudah tidak bisa diambil tindakan tegas,” tuturnya.

Agar tidak ada indikasi penyimpangan, menurutnya, pemkab harus rutin melakukan sidak ke sejumlah salon yang ada di Sleman. Sidak ini sangat penting guna mempersempit ruang gerak penyalahgunaan salon dan spa. Termasuk pengecekan kesehatan bagi terapis atau kapster.

Sementara itu Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sleman A.A Ayu Laksmi Dewi mengkalim pihaknya telah melakukan pembinaan ke sejumlah salon-salon.

“Kami sudah ada program pembinaannya tersendiri mulai dari aturan dan peningkatan pelayanan,” jelas Ayu terpisah.

Saat disinggung soal temuan kondom dan dua kapster terindikasi PMS, Ayu belum bisa banyak berkomentar. Dia masih butuh pendalaman atas keberadaan temuan tersebut.

“Saya nanti akan cek ke bawahan ini saya masih di luar kota jadi belum bisa memberi komentar,” tandasnya. (bhn/ong)