Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
ATASI SAMPAH: Warga menata botol air mineral yang sudah terisi sampah plastik atau metode “Ecobricks” saat dicanangkan BLH Kota Jogja, di Taman Gajah Wong Educational Park, Umbulharjo, Jogja, kemarin (3/6).
JOGJA – Jogjakarta menjadi kota pertama di dunia yang secara formal menerapkan metode “Ecobricks” sebagai solusi pengelolaan sampah plastik. Pencanangan dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja di Taman Gajah Wong Educational Park, Umbulharjo, Jogja, kemarin (3/6).

Melalui metode gagasan pasangan Russell Maier dan Ani Himawati ini, warga pun diajak menyulap sampah plastik menjadi bahan material yang bisa dimanfaatkan untuk beragam fungsi. Misalnya bangku, meja hingga kebutuhan lainnya seperti permainan edukatif anak-anak.

Kepala Sub Bidang Daur Ulang Sampah BLH Kota Jogja Faizah mengatakan, selama ini sampah plastik sangat sulit ditangani. Jumlahnya pun cukup banyak, mencapai 14 persen dari total sampah yang dihasilkan Kota Jogja sebesar 240 ton per hari. Sampah plastik baru bisa terurai secara alami dalam waktu 10-80 tahun, dan jika dibakar justru menghasilkan molekul dioxin yang bersifat racun.

Oleh karena itu, perlu adanya inovasi yang mampu mengurangi sampah plastik dan mengolahnya kembali. Ecobricks merupakan salah satu solusi yang diharapkan mampu mengolah kembali sampah plastik menjadi material yang ramah lingkungan dan tetap bernilai fungsi.

Material ramah lingkungan ini dibuat dengan memasukkan dan memadatkan sampah plastik yang sudah bersih dan kering ke dalam botol plastik. Botol plastik dinilai masih menjadi sebuah wadah yang cukup kokoh, karena sebuah botol plastik berukuran 600 mililiter dapat diisi sekitar 250 gram sampah plastik atau setara dengan 2.500 lembar plastik bungkus mi instan.

“BLH Kota Jogja mulai melakukan sosialisasi ke masyarakat mengenai Ecobricks sejak Maret dan hingga kini sudah ada hampir 6.000 Ecobricks yang dihasilkan warga,” ungkapnya. (aga/laz/ong)