BERSINERGI DENGAN ALAM: Dalam rangka merti desa, Mahasiswa DKV Politeknik Jogja yang tergabung dalam Mowo ArtDance menampilkan tarian Sang Mata Air2.
SLEMAN–Masyarakat di beberapa daerah mengenal ritual nyadran atau merti desa jelang kedatangan Bulan Ramadhan. Berbagai kegiatan digelar dalam kegiatan tradisi tersebut. Seperti mahasiswa Jurusan Design Komunikasi Visual (DKV) Politeknik Jogja yang menggelar pertunjukkan tari berjudul ‘Sang Mata Air2′. Para mahasiswa yang tergabung dalam Mowo ArtDance ini memeriahkan upacara adat di obyek wisata Air Blue Lagoon, Dalem, Widodomartani, Ngemplak, kemarin (3/6)
Enam penari ini semuanya mengenakan konsum berwarna biru. Kisah ini merupakan kelanjutan dari ‘Sang Mata Air1′ yang telah mereka bawakan tahun lalu, di lokasi yang sama. Menceritakan tentang hidupnya kembali sumber mata air di sekitar Blue Lagoon. Karena mata air pertama sudah mati akibat ulah manusia yang kurang peduli dengan lingkungan.

Hidupnya kembali mata air ini tentu disambut senang oleh masyarakat sekitar. Beberapa warga juga tampak berhati-hati untuk menjaga agar sumber mata air tidak mati kembali. Namun lagi-lagi karena ulah manusia. Limbah yang sebelumnya terkurung kembali hidup. Akibatnya mata air kembali tercemar.

“Kami ingin menyampaikan, jika pencemaran lingkungan. Baik udara maupun air itu pasti akan. Namun dengan bersama-sama saling menjaga, ternyata kita mampu mempertahankan sumber air itu. Akhir cerita ini memang sengaja kami buat bahagia,” kata Java selaku Ketua Mawa ArtDance‎.

Nyadran juga dilakukan ratusan warga Argomulyo, Cangkringan, yang dipusatkan di Makan Sasonoloyo, Jaranan. Dalam prosesinya, didahului dengan kirab bregada dari Padhepokan Sendang Kamulyan. Para bergada menggelar kirab sejauh hampir 1 kilometer dari Sendhang Kamulyan hingga Makam Sasonoloyo.

Salah satu panitia, Sartono mengatakan bahwa nyadran tersebut bukan hanya diikuti warga dusun Jaranan saja tetapi juga dari dusun lain misalnya Karanglo, Brongkol, dan Cangkringan. Tradisi nyadran sebagai bentuk upaya pelestarian budaya dan upaya mendoakan para leluhur yang telah mendahului.

“Tradisi ini tidak hanya melibatkan umat yang beragama Islam saja. Tetapi pemeluk agama lain juga terlibat,” tandas Sartono. (bhn/dem/ong)