KULONPROGO-Nilai investasi di Kulonprogo dari tahun 2011 hingga 2015 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika pada 2012 hanya Rp 144 miliar, pada 2015 meningkat menjadi Rp 1,04 triliun. Kenaikan itu tidak terlepas dari daya tarik megaproyek khususnya bandara di Temon. “Kenaikan investasi itu merupakan prestasi yang luar biasa. Untuk terus meningkat semua, semua unsur harus meberi kemudahan untuk investasi,” kata Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dalam seminar bertemakan “Membedah Potensi Investasi dan Pariwisata DIJ” di Aula Adikarta Gedung Kaca, Rabu (1/6).Menurutnya, Kulonprogo sangat diuntungkan dengan posisi geografis. Sebagai contoh, jika terjadi gunung meletus di sebelah timur Sungai Progo, tidak khawatir karena imbasnya tidak sampai di Kulonprogo. Maka dipilihkan wilayah Sentolo untuk pengembangan kawasan industri. “Selain aman, juga sangat strategis sebagai penghubung antara Jogjakarta dengan Kulonprogo bahkan kalau mau ke bandara juga dekat,” jelasnya. Ditambahkan, untuk potensi lain pengembangan produk lokal seperti gula semut dan gula Jawa tidak ada yang menandingi. “Gula merah adalah peluru tajam yang bisa menjaga diri atau bersaing dengan negara lain di Asean,” imbuh Hasto. Untuk sektor wisata yang berbasis budaya, Hasto telah mengutarakan gagasan untuk membangun Taman Raja Nusantara di Pendowoharjo, Girimulyo. Dan hal ini rencananya akan dipresentasikan di depan Menteri Pariwisata.Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Tachir Fathoni mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menanggapi, Indonesia cukup kaya dengan potensi wisata, khsusunya wisata alam dan budaya. Jika dipersentase, komposisinya wisata alam 30 persen, budaya 65 persen, dan yang buatan hanya 5 persen. “Kondisi ini sangat menguntungkan, daerah yang memiliki kekayaan alam dan budaya juga menjadi jaminan investasi yang baik dan memiliki prospek cerah, termasuk Kulonprogo tentunya,” ucapnya.Ditegaskannya, Kulonprogo sangat sesuai dengan hal tersebut. Apalagi di Kulonprogo akan dikembangkan berbagai potensi wisata budaya dan wisata lainnya dalam menyongsong era masyarakat ekonomi asean (MEA) dan pembangunan berbagai megaproyek termasuk bandara. “Bukan tidak mungkin daerah ini akan maju dalam hal investasi,” tegasnya.Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Pusat Tamba Parulian Hutapea menambahkan, wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia masih rendah karena targetnya baru di angka 12 juta. “Daya saing industri Pariwisata Indonesia masih di bawah harapan. Karena masih menempati urutan ke 50 dari 141 negara. Untuk itu perlu gerak dan usaha kolektif untuk mengejar ketertinggalan itu,” ucapnya. (tom/din/ong)