ADI DAYA PERDANA/RADAR JOGJA
DIKERUK TERUS: Aktivitas penambangan pasir di lereng Merapi terus dilakukan. Bahkan alat-alat berat pun dikerahkan untuk menambang sebanyak-banyaknya. Aktivitas ini ditolak warga.
MUNGKID – Penolakan terhadap aktivitas penambangan dengan alat berat terus disuarakan. Berbagai elemen masyarakat di sekitar Merapi akan menggelar aksi dengan turun ke jalan. Mereka hendak memasang spanduk penolakan terhadap penambangan dengan alat berat di beberapa kecamatan.

Aksi mereka akan dimulai dari Kecamatan Sawangan dan berkeliling ke beberapa kecamatan lain. Selain memasang spanduk, mereka juga akan menggelar aksi treatikal. Aksi treatikal ini diperankan seniman-seniman di Candi Asu di sekitar Merapi. Elemen masyarakat ini tergabung dalam Aksi Damai Solidaritas Masyarakat Magelang (Semmut) untuk Merapi. “Ada sekitar 200 orang yang akan bergabung untuk aksi damai besok (hari ini, Red),” kata salah satu warga Sugiono kemarin (3/6).

Menurutnya, warga sekitar Merapi khawatir penambangan alat berat merusak lingkungan. Mata air untuk kebutuhan sehari-hari warga dan petani juga terancam mati. Selain itu, keutuhan alam juga terancam dengan alat berat. “Penambangan alat berat harus pergi dari Merapi, ” tegasnya.

Anggota DPRD Kabupaten Magelang Darmawan Sutikno mengatakan, penambangan di sekitar jembatan juga berpotensi mengganggu fungsi jembatan. Penggalian pasir yang menggunakan alat berat backhoe ini misalnya yang terpantau di antara Jembatan Gantung Tlatar.

Menurutnya, kekhawatiran warga sangat beralasan. Sebab jembatan gantung tersebut menjadi akses penting masyarakat luas. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, maupun evakuasi warga sejumlah desa kawasan lereng Barat Merapi, saat terjadi bencana.

Dengan alasan itu, banyak warga berharap, penggalian material vulkanik Merapi di alur Kali Pabelan itu ditertibkan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng maupun PoldaJateng. “Ini juga demi mencegah timbulnya konflik horizontal,” kata dia.

Selain merusak alam, penambangan ini juga berdampak ke ruas jalan di sekitar Merapi. Kerusakan jalur wisata Ketep-Pogalan-Kaponan semakin parah. Kondisi itu sudah tampak sejak beberapa bulan lalu. Diduga penyebabnya, karena tak pernah henti dilalui ratusan truk pasir dengan muatan berlebih selama 24 jam penuh.

“Pernah dibahas pada rapat koordinasi dengan instansi terkait, agar dialokasikan dana perbaikan secara permanen dalam APBD tahun ini. Tapi hingga saat ini masih dipertimbangkan karena anggaran terbatas,” kata Kabid Bina Marga DPU-ESDM Kabupaten Magelang David Rudianto. (ady/din/ong)