SLEMAN – Diduga melakukan tindak pelecehan terhadap mahasiswinya, seorang oknum dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) berinisial EH mendapat skorsing dari kampusnya.

EH disebut melakukan tindakan tidak terpuji kepada mahasiswi pada April 2015.

Dekan Fisipol UGM Erwan Agus Purwanto mengatakan, kasus ini telah ditangani Fisipol UGM sejak 25 Januari 2016
Pihaknya juga langsung mengambil tindakan dengan mengadakan rapat gabungan (dekanat, ketua senat fakultas dan pengurus departemen).

“Dalam rapat itu Fisipol me-lakukan pemanggilan terhadap EH untuk melakukan klarifikasi. Dan yang bersangkutan me ngakui perbuatannya,” kata Erwan seperti dalam rilis yang diterima war-tawan kemarin.

Selanjutnya berdasar klarifikasi itu, Fisipol telah menjatuhkan sanksi dengan membebastugas-kan EH dari kewajiban me ngajar serta membimbing skripsi dan tesis. “Juga membatalkan usulan EH menjadi ketua pusat kajian,” tambahnya.

Tidak berhenti di situ, Fisipol juga mewajibkan yang ber-sangkutan mengikuti program konseling dengan Rifka Annisa Womens Crisis Center. Hal itu untuk menangani perilaku negative, khususnya yang ter-kait pelecehan seksual.

“Sanksi itu diberlakukan sampai EH mampu melakukan per baikan perilaku berdasarkan hasil konseling. Jika nanti ditemukan fakta baru yang belum terungkap, maka Fisipol akan memberikan sanksi lebih berat kepada yang bersangkutan,” paparnya.

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, korban awal mula-nya dihubungi EH sekitar Fe-bruari 2015. EH termasuk dosen mata kuliahnya dan pengampu nilainya. Ketika itu korban ter-lambat me ngumpulkan tugas paper.

Setelah itu, beberapa kali ia kembali diajak bertemu karena EH memberikan proyek penulisan jurnal, dan korban diminta membantu.

Pertemuan selalu ber-langsung malam hari di sebuah perpustakaan pusat studi di Bulaksumur. Kemudian yang paling korban ingat adalah kejadian di medio April 2015. Saat itu EH me minta korban menemuinya di per-pustakaan tersebut untuk mem-bahas tugas presentasi.

Saat sedang membahas tugas itu, EH menyarankan korban membaca sebuah buku yang ada di per-pustakaan itu.

Saat sedang membaca buku tersebut, EH mendekati korban. Tangan korban kemudian mencoba memegang dada korban dari samping belakang. Namun korban menahan agar perbuatan itu tidak dilanjutkan.

Setelah kejadian itu, korban sempat bertemu dengan EH. Tetapi EH tidak meminta maaf dan seperti tidak merasa bersalah telah melakukan tindakan itu.

Sampai kemudian ada beberapa korban yang juga melaporkan ulah dosen tersebut ke pihak fakultas. Setelah adanya laporan itu, EH dipanggil untuk diklari-fikasi kemudian mendapatkan sanksi. (riz/laz/ong)