SLEMAN – Eksotisme Papua tak bisa hanya dilihat dari bentang alamnya. Ragam seni budaya asal Pulau Mutiara Hitam juga beragam. Bahkan, masyarakat setempat mampu mempertahankan keaslian tradisi dan budaya dari pengaruh arus modernisasi zaman.

Kuncinya, budaya tak sekadar menjadi wahana kesenian dan hiburan. Lebih dari itu sebagai sarana komunikasi antar warga Papua. Termasuk untuk memahami keberagaman dan kompleksitas pulau paling ujung timur Indonesia itu. Ragam budaya itu pula yang kerap dipertontonkan warga Papua dimana kaki mereka berpijak. Termasuk di Jogjakarta.

“Masyarakat Papua memiliki local knowledge dan local wisdom yang mengakar dalam budaya dan tradisi mereka. Salah satu nilai yang mereka pegang adalah penghargaan terhadap lingkungan,” jelas Antropolog Universitas Cendrawasih Dr Johsz R. Mansoben dalam bincang budaya Papua di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM.

Talk show tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Papuan Days. Mengambil tema Meneropong Papua dalam Kacamata Budaya. Selain talk show, Papuan Days yang diselenggarakan atas kerja sama antara Keluarga Mahasiswa Papua Gadjah Mada (KEMPGAMA), Kelompok Kerja Papua UGM, dan PT Freeport Indonesia diisi pameran kesenian, sharing film dokumenter, serta berbagai pertunjukan budaya Papua. (dwi/yog/ong)