DWI AGUS/RADAR JOGJA
PARANG: Raras Cynanthia (tengah) bersama model yang mengenakan busana karya-karyanya dengan mengusung batik tulis motif parang yang menjadi andalannya.

Sempat Tak Tega Memotong Kain Bermotif Parang

Batik tulis telah menjadi salah satu produk keunggulan Indonesia. Tidak hanya sebagai produk budaya tapi juga menjadi identitas, karakter, dan jati diri bangsa. Ini pula yang ditangkap oleh Raras Cynanthia melalui karya-karyanya.

DWI AGUS, Jogja
BATIK tengah menjadi tren dunia fesyen Indonesia, bahkan hingga dunia internasional. Keindahan ini bertambah dengan adanya karya batik tulis warisan nenek moyang. Eksotisme batik tulis tak hanya terlihat pada hasilnya, tapi juga proses pembuatannya.

Ini pula yang mencuri perhatian seorang desainer muda Raras Cynanthia. Calon doktor bidang Fashion Manajemen The University of Manchester, Inggris ini penasaran dengan proses pembuatan batik. Ayas, sapaannya, lantas mendatangi satu per satu perajin batik tulis. Pertama melihat, dia langsung jatuh cinta dengan motif batik tulis.

“Saat ingin pulang ke Jogjakarta dari Jakarta, saya kehabisan tiket pesawat. Akhirnya pilih naik mobil. Dalam perjalanan menyempatkan mampir di beberapa perajin batik tulis. Seperti Pekalongan hingga Jogjakarta,” kenangnya saat Fashion Show di Greenhost Boutique Hotel Prawirotaman, Sabtu malam (4/6) lalu.

Pertemuan dengan para perajin membuat Ayas sepakat untuk melestarikan batik tulis. Baginya batik tulis tidak hanya sekadar kain biasa. Bagian terpenting dari batik tulis adalah proses pembuatannya yang tergolong tidak mudah. “Pantas saja jika United Nation Educational, Scientific, and Cultural (UNESCO) menobatkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia,” ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Ayas, tidak semua orang paham bahwa batik tulis jauh lebih berharga. Saat berburu batik tulis ini dia menemui adanya ketimpangan. Terutama antara perajin batik tulis tradisional dan penjual.

Harga yang ditawarkan memiliki jarak yang sangat jauh. Bahkan untuk karya seindah batik tulis harga yang ditawarkan belum mendapatkan apresiasi yang layak. Itu semakin membuat perempuan kelahiran 28 Februari 1990 ini berupaya mengenalkan nilai dari batik tulis.

“Ada sisi miris juga ketika mengetahui harga yang ditawarkan oleh perajin tidak sepadan. Proses yang dilalui untuk selembar kain batik itu sangatlah lama. Terkadang ini dijadikan celah bagi pengepul batik untuk mengambil dengan harga yang tidak wajar,” ungkapnya.

Bukan keputusan yang mudah tentunya, terlebih persaingan dunia industri fesyen saat ini begitu ketat. Namun, upayanya ini tidak hanya bicara tentang fashion semata. “Paling penting adalah melestarikan salah satu kekayaan budaya nusantara,” ungkapnya.

Ayas merespons keindahan batik tulis dalam karya desainnya yang bertajuk Saraswati The Batik Tulis. Untuk saat ini, Ayas masih fokus pada batik motif parang. Tapi, tidak menutup kemungkinan motif lain ke depannya.

Saraswati The Batik Tulis sendiri diambil dari bahasa Sansekerta Sarasvati. Sosok dewi Sarasvati yang memiliki keindahan dalam ilmu pengetahuan dan seni. Dalam budaya Jawa, Sarasvati lebih dikenal sebagai Saraswati.

“Ini juga sejalan dengan pemilihan motif parang yang diusung saat ini. Parang menggambarkan keberanian. Bahkan dalam sejarah tanah Jawa, motif parang barong merupakan penanda sosok kuat dalam menghadapi kehidupan,” ungkapnya.

Uniknya, di awal pembuatan busana, Ayas mengaku tidak tega memotong batik tulis. Sebab, keindahan tertuang dalam kain utuhan. Sehingga dia memutar otak agar keindahan ini tetap terjaga. Salah satunya dengan teknik jahitan yang menyambungkan motif yang terpotong.

“Saya tertarik untuk mengenalkan ke generasi muda melalui tren fashion saat ini. Terutama mengenalkan keindahan batik tidak hanya dihasil akhir, tapi juga dari proses pembuatannya,” jelasnya. (ila)