SLEMAN – Sebagai salah satu pusat pendidikan di DIJ, Kabupaten Sleman masih menjadi sasaran empuk peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang psikotropika. Empat wilayah kecamatan terdeteksi paling rawan penyalahgunaan narkoba. Yakni, Depok, Gamping, Pakem, dan Mlati. Meskipun saat ini peredaran narkoba telah merambah kawasan pedesaan.

Depok menjadi kawasan paling rawan karena selain pada penduduk, juga menjadi daerah transit pelajar dan mahasiswa luar daerah. Merekalah dua sasaran utama yang dibidik para pengedar narkoba.

Berdasarkan data Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DIJ pada 2014, terjadi sedikitnya 62.028 kasus penyalahgunaan narkoba. Sebanyak 19.800 orang diantaranya adalah pelajar/mahasiswa.

Ironisnya, sekitar 30 ribu pengonsumsi atau pelaku peredaran gelap narkoba berdomisili di Sleman. “Dari jumlah itu 20 persennya pelajar dan mahasiswa. Sleman tertinggi kasusnya di DIJ,” ujar Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun disela peringatan Hari Antinarkoba, Sabtu (4/6).

Muslimatun mengigatkan pentingnya peran semua pihak untuk menanggulangi bahaya narkoba. Apalagi, pemerintah mendeteksi peredaran narkoba hampir merata di seluruh Sleman. Dari situ, untuk memerangi narkoba, pemkab membagi kawasan berdasarkan tingkat kerawanannya.

Selain empat wilayah tersebut, Moyudan, Ngemplak, dan Kalasan termasuk kawasan paling rawan pertama. Sisanya, tergolong rawan II. Yakni, Prambanan, Berbah, Seyegan, Ngaglik, Cangkringan, dan Turi.

Dia menegaskan, penyalahgunaan narkoba merupakan masalah besar dan serius. Peredaran narkoba saat ini sudah bersifat lintas negara, lintas daerah dan terorganisasi.

Dalam kesempatan itu, Muslimatun melantik satgas narkoba desa dari lima wilayah. Antara lain, Sumbersari, Moyudan; Margodadi, Seuegan; Caturharjo, Sleman; Madurejo, Prambanan; dan Kalitirto, Berbah. Dia berharap, gerakan melawan narkoba tak berhenti sampai pelantikan satgas. Semua pihak harus bersinergi melawan ancaman peredaran narkoba.

Kabag Kesra Hery Sutapa menambahkan, peringatan Hari Antinarkoba tak semata-mata sebagai pengingat masyarakat atas bahaya obat-obatan terlarang. Lebih dari itu, memotivasi masyarakat agar tergerak melaksanakan kegiatan pencegahan , pemberantasan penyalahgunaan dan peredaaran narkoba (P4GN) di wilayah masing-masing. “Butuh kolaborasi masyarakat dan lembaga pemerintah,” katanya.(bhn/yog/ong)