JOGJA – Kesenjangan ekonomi di Indonesia semakin terlihat. Hal itu dapat diamati dari kehidupan antara orang kaya dengan miskin. Situasi ini terjadi karena negera tidak mampu memainkan dan menjalankan eknomoni pro rakyat. Sehingga, kekayaan sumber daya yang dikuasi lebih banyak dikuasi oleh orang kaya yang berkonspirasi denga asing.

“Realitasnya, ekonomi kita dikuasi oleh orang kaya saja dan asing,” kata Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof Dr Musa Asy’arie kepada Radar Jogja beberapa waktu lalu.

Menurut Musa, setiap bisnis dapat dipastikan ada peran tokoh yang tukang nyatut nama pejabat. Biasanya, mereka yang kerap mencatut nama pejabat memiliki jaringan konspirasi di semua lini, mulai dari pemodalan, perizinan, penetapan lokasi, dan manajemen perusahaan. Sehingga, tidak heran perilaku korup masih saja terjadi dan sulit diberantas.

“Ekonomi pro rakyat mewajibkan pengguna produk dalam negeri dan bimbingan teknik peningkatan kualitas. Masalahnya adalah produk dalam negeri tidak berkualitas sehingga perlindungan ekonomi rakyat melalui intervensi perluasan pemasaran untuk ekonomi rakyat,” tuturnya.

Agar perekonomian Indonesia tidak diberdaya oleh konspirasi kepentingan, Musa meminta pelaku konspirasi harus dilawan.

“Kalau ingin membangun pro rakyat maka pemerintah harus melawan konspirasi,” tandas Musa. (mar/dem)