ZAKKI MUBAROK
NYEGAT BLOTHONG: Warga Pajangan melakukan aksi protes di tengah aliran Sungai Bedhong yang dijadikan tempat pembuangan limbah cair produksi spiritus Pabrik Gula Madukismo, Bantul.
BANTUL – Pembuangan limbah air Pabrik Gula Madukismo di Sungai Bedog dianggap sudah melewati batas toleransi. Sebagai bentuk protes dan perlawanan atas praktik yang sudah berjalan bertahun-tahun itu, warga di sepanjang aliran Sungai Bedog komunitas pecinta sungai menggelar serangkaian aksi di bawah jembatan Sidon Dusun Dukuh, Guwasari, Pajangan kemarin (5/6).

Kegiatan itu bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia. Mengambil tema “Nyegat the Blothong”. Itu sebagai bentuk satire atas ketidakpedulian pabrik dan pemerintah terhadap pencemaran air sungai.

Koordinator aksi Masduki Rahmad mengungkapkan bahwa tema tersebut bermakna penolakan terhadap aktivitas pembuangan limbah air saat musim penggilingan tebu dan produksi spritus Madukismo.

Blothong adalah istilah warga untuk menyebut limbah air hasil proses produksi spritus.

Blothong tak hanya mencemari air dan mematikan ikan yang ada di aliran Sungai Bedog. “Sumur warga juga tercemar. Nyamuk kian banyak. Bau tak sedap sungai menyengat,” keluh Masduki di sela acara.

Ketua Karangtaruna Dipo Ratna Muda Desa Guwasari ini meyakini persoalan serupa tak hanya dikeluhkan warga di wilayah Pajangan.Itu juga dirasakan warga Kasihan, Bantul, dan Pandak yang dilintasi aliran Sungai Bedog.

Hanya, mereka enggan menyampaikannya ke publik. Kendati demikian, Masduki meyakini jika pemangku kebijakan di Pemkab Bantul sudah mengetahuinya. Sebab, berulang kali persoalan tercemarnya Sungai Bedog ini menjadi pemberitaan media massa. “Beberapa elemen masyarakat juga sudah menyorotinya,” ungkapnya.

Agar pemangku kebijakan melek, Masduki lantas menggagas pengumpulan berbagai keluhan warga. Selain tertulis, testimoni warga direkam dalam bentuk video.

Nantinya, testimoni ini diserahkan kepada pabrik gula, Pemprov DIJ, dan Pemkab Bantul. Juga, Kementerian Lingkungan Hidup.

Lurah Guwasari Muh Suharto mebeberkan bahwa limbah cair pabrik gula semula dialirkan ke Sungai Winongo. Kemudian, dibuang ke Sungai Bedog hanya karena pemkab ingin memperoleh penghargaan Adipura. Karena merugikan, warga di bantaran Sungai Bedog menolak pembuangan limbah cair sembarangan. “Kami hanya merasakan dampak buruknya,” keluhnya.

Selain upacara bendera, peserta agenda Nyegat the Blothong ini juga menebarkan benih ikan ke Sungai Bedog. Agar ekosistem sungai kembali seperti semula. Dilanjutkan penanaman pohon oleh warga di kawasan bantaran sungai. (zam/yog/ong)