JOGJA – Satu-satunya partai politik (parpol) peserta Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017 yang membuka pendaftaran terbuka Gerindra, saat ini tengah dirundung masalah internal. Di internal Partai besutan Prabowo Subianto itu kini muncul dua kandidat kuat. Mereka adalah Haryadi Suyuti (HS) dan Syauqi Soeratno.

Perpecahan di Partai Gerindra ini terjadi karena kedua pendukung di internal partai sama-sama kuat. Sosok Syauqi yang selama ini dikenal sebagai putra Ketua PP Aisyiyah Prof Chamamah Soeratno disebut sudah melamar kader Partai Gerindra Sinarbiyat Nujanat. Sedangkan HS mempersilakan mekanisme parpol.

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jogja Anton Prabu Semendawai mengatakan, perbedaan pendapat hal yang lumrah. Apalagi, saat ini Gerindra belum memastikan bakal calon (balon) yang akan mereka usung. “Yang jelas mekanisme partai tetap berjalan. Siapa pun yang telah mengambil formulir akan kami proses,” tandas Anton, kemarin (5/6).

Anggota Komisi C DPRD DIJ ini mengungkapkan, mekanisme parpol tetap berpedoman pada penjaringan. Kemudian, mereka akan melakukan penyaringan balon yang telah mendaftar. “Itu (penyaringan) akan dilakukan DPP. Begitu pula dengan sosok yang akan diusung. Pastinya, DPP akan melihat dari tingkat keterpilihannya,” jelas Anton.

Dia menegaskan, semua keputusan mengenai sosok yang akan diusung merupakan wewenang DPP. Artinya, hal tersebut tak akan bisa dipengaruhi salah satu balon. “Maupun orang lain. Kami menggunakan basis data survei,” katanya.

Klaim adanya rekomendasi jatuh ke salah satu balon, lanjut Anton, tak bisa untuk jadi pedoman. Sebab, sampai saat ini Partai Gerindra masih berproses. Termasuk dengan koalisi balon yang akan diusung di pilwali.

Selama ini muncul klaim di internal Gerindra jika Syauqi Soeratno telah mendapatkan lampu hijau. Saat mencoba dikonfirmasi, figur yang lekat dengan sepak bola itu tak menjawab. Baik dikonfirmasi melalui sambungan telepon, SMS, dan aplikasi Whatsapp.

Kabar perpecahan di internal Gerindra ini pula yang membuat PKS akhirnya menarik diri. Mereka memilih untuk melanjutkan komunikasi dengan parpol lain. Apalagi, muncul tekanan dari DPP partai dakwah itu untuk memenangi pilwali tahun depan.

“Kami diminta berkoalisi dengan yang terkuat. Karena, selama dua kali pilwali, PKS tidak pernah menang,” jelas Ketua DPD PKS Kota Jogja Muhammad Syafii.

Target memenangkan Pilwali ini, akhirnya membuat DPD Kota Jogja memilih menanti perkembangan peta politik. Mereka memilih membuka komunikasi dengan parpol lain selain Partai Gerindra. “Jadi belum ada kesepakatan. Karena, kesepakatan itu banyak ditentukan DPP,” tuturnya.

Keberadaan PKS ini memang menentukan. Terlebih, PPP juga tengah dilanda konflik internal berkepanjangan. Alhasil, posisi PKS bersama Partai Demokrat jika berkoalisi denga parpol lain raihan total lima kursi bisa menjadi modal memenuhi syarat minimal delapan kursi.

Posisi PKS yang menarik diri ini bakal membuat peta politik menjadi berubah. Partai Gerindra bisa sendiri jika PKS merapat ke Partai Golkar. Terlebih, DPD Golkar Kota Jogja telah mendapatkan restu dari DPP mengusung Haryadi Suyuti.

“Secara resmi belum ada. Yang jelas, kami sudah menyolidkan mengusung Pak Haryadi,” ujar Ketua DPD Golkar Kota Jogja Augusnur.

Augusnur mengaku, karena raihan lima kursi itu, pihaknya saat ini masih menjalin komunikasi dengan parpol lain. Di antaranya PKS dan PAN. “Siapa pun peluangnya koalisi, kami buka komunikasi,” jelas Ketua Komisi A DPRD Kota Jogja ini. (eri/ila)