HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
KUMUH: Priyo Sudarmo, 68, warga Pedukuhan Klendegan Kidul, Desa Jangkaran, Temon saat memunguti sampah kayu di muara sungai Bogowonto, Congot, Jangkaran, Temon.
KULONPROGO-Fenomena tahunan kembali terjadi di pesisir pantai selatan Kulonprogo khususnya di muara Bogowonto, Congot, Temon. Kawasan ini saat ini dibanjiri sampah. Sampah berbagai jenis dari sungai itu terbawa arus dan menepi.

Namun, keberadaan sampah-smpah itu justru menjadi peruntungan sejumlah warga. Sampah yang didominasi ranting dikumpulkan menjadi kayu bakar. Kayu-kayu itu biasa dibeli para perajin gula kelapa. Setiap hari dia mampu mengumpulkan kubikan kayu bakar. Untuk jenis bambu dijual Rp 30 ribu per kubik dan kayu Rp 40 ribu per kubik. “Kami harus memilah-milahnya. Karena bercampur dengan sampah lain seperti plastik,” kata Priyo Sudarmo, 68, warga Pedukuhan Klendegan Kidul, Desa Jangkaran, Temon.

Menurut Priyo, saat ini nasib nelayan masih kurang beruntung. Gelombang tinggi dan kuatnya arus laut selatan membuat hasil tangkapan menuru. Tidak banyak nelayan yang beralih profesi sembari menunggu kondisi laut membaik. Misalnya bertani atau bekerja serabutan.

Ketua Kelompok Nelayan KUB Sub Bogowonto 1 Surjani menjelaskan, sebangian besar nelayan memilih memarkirkan perahunya sambil menunggu kondisi laut membaik. Nelayan lain, Kastubi menyatakan, sebagian nelayan kini memilih menjala di pintu muara. Saat gelombang tinggi banyak ikan yang terbawa dan masuk ke alur sungai, seperti ikan kapuran, blanak, tombolan, dan jenis lainnya. “Kalau beruntung ya bisa dapat banya. Yang penting kita berusaha,” katanya. (tom/din/ong)