DWI AGUS/RADAR JOGJA
TIGA REKOR SEKALIGUS: Nasirun (tengah) memamerkan piagam penghargaan MURI atas rekor yang diraihnya. Dalam pameran tunggal bertajuk “Embracing Diversity” Nasirun meraih tiga rekor sekaligus dari karya lukisan mobil, miniatur Candi Borobudur, dan lukisan meja kayu utuh.
BANTUL – Nasirun memang luar biasa. Seniman kenamaan berambut panjang itu mampu meraih tiga rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sekaligus dalam sekali event. Melalui pameran tunggal bertajuk “Embracing Diversity” di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nasirun menorehkan rekor baru. Rekor tersebut berupa lukisan mobil terbanyak, miniatur Candi Borobudur dengan pagupon terbanyak, dan lukisan meja kayu utuh terbanyak.

Diluar dugaan, Nasirun justru tidak menargetkan rekor MURI atas karya-karyanya itu. Umumnya seniman idealis, Nasirun hanya berpikir pada karya yang dihasilkan. Dia sengaja menyelipkan pesan moral yang ditangkap dari fenomena lingkungan.

Salah satu yang paling menggosok keprihatinannya adalah kebakaran hutan. “Masalah ini tak bisa lagi digolongkan sebagai fenomena alam. Karena beberapa kasus justru dilakukan oleh manusia,” katanya.

Dalam kesempatan pameran, Nasirun menegaskan pentingnya hidup serasi dengan alam. Tidak hanya menguras isinya. Terhadap penghargaan MURI, Nasirun melihatnya sebagai tantangan untuk terus berkiprah dan berbuat lebih baik lagi. Baik itu kepentingan sosial maupun menghasilkan karya seni.

Bagi MURI, tiga rekor tersebut tergolong baru. Bahkan, tergolong paling pertama unik dan langka. “Ketiga hasil karya seni itu tercatat sebagai rekor ke 7.476, 7.477, dan 7.478 MURI,” ujar Eksekutif Manajer MURI Sri Widayati pekan lalu.

Tergolong unik karena pemilihan media lukisnya. Ada 24 mobil dan 13 meja kayu utuh. Lalu, miniatur Candi Borobudur dari 113 pagupon. Rekor MURI ini juga ditujukan bagi penyelanggara dan kolektor seni karya Agung Tobing.

Widayati mengatakan, rekor tersebut diberikan setelah pendiri MURI Jaya Suprana mendengar adanya pameran tunggal nasirun. Selanjutnya, MURI mengutus tim khusus untuk melihat dan mengamati setiap detail karya yang dipamerkan. Dari pengamatan, terbukti bahwa pameran karya seni tersebut belum pernah ada di catatan MURI.

“Sesuai klasifikasinya ketiga rekor ini belum pernah dibuat sebelumnya,” katanya.

Kurator pameran Suwarno Wisesotromo menilai rekor tersebut sebagai tonggak prestasi. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa ranah dunia kerja perupa tak hanya berupa seni. Lebih dari itu, rekor bisa menginspirasi para seniman untuk terus berkarya.

Miniatur Candi Borobudur menjadi salah satu karya yang menarik perhatian Suwarno. Sebagai seorang muslim yang kuat, Suwarno melihat Nasirun sebagai sosok liberal dalam berpikir. Yang memandang Borobudur sebagai produk budaya yang wajib dijaga dan dilestarikan.

“Nasirun mampu mewartakan nilai-nilai ini dalam karyanya. Dengan cerdasnya mengusung pagupon notabene rumah burung merpati sebagai media karya. Ada nilai dan pesan yang ingin dia sampaikan melalui karya ini,” paparnya. (dwi/yog/ong)