Harnum Kurniawati/Radar Jogja
KEARIFAN LOKAL: Padusan dengan menyusuri Kali Bening yang dilakukan sebagian warga Protosaran, Kota Magelang, untuk menyambut Ramadan kemarin (5/6).
MAGELANG – Menjelang bulan suci Ramadan, warga Kampung Protosaran, Kota Magelang, berbondong-bondong mengikuti tradisi padusan kemarin (5/6). Berbagai elemen seperti mahasiswa dan kalangan seniman, turut dalam padusan bertajuk Tirta Hayuning Bawono di Kali Bening.

Padusan dimulai sore hari dengan membawa sebuah bambu dan kendi, sebagai simbol yang diarak dari kampung menuju sungai. Mereka yang terlibat semua mengenakan pakaian adat Jawa. Bambu dijeburkan ke sungai, lalu acara padusan dengan merendamkan diri di sungai dengan di basahi menggunakan air dari dalam bambu.

Pimpinan padusan ES Wibowo mengatakan, bambu yang sudah dilubangi itu memiliki arti bahwa air adalah sumber kehidupan bagi semua umat. Termasuk padusan, juga rangkaian dari manfaat yang dimiliki air.

“Dengan mengambil tajuk Tirta Hayuning Bawono ini, selain mengikuti padusan jelang puasa yang bermaksud mensucikan diri, juga agar kita selalu menjaga lingkungan kita karena air adalah sumber kehidupan,” katanya.

Wibowo mengakui menjelang Ramadan pihaknya rutin menggelar padusan. Kegiatan ini bagian dari cara masyarakat menyambut bulan suci dengan meningkatkan harmonisasi sosial.

“Padusan adalah simbol bahwa masyarakat telah siap untuk menyambut bulan Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan kebersihan jiwa,” kata dia yang juga Ketua Padepokan Gunung Tidar ini.

Selain itu, dengan dilakukannya padusan di sungai agar masyarakat juga lebih mencintai lingkungan untuk tidak mencemari. Tidak membuang sampah di sungai, agar air selalu terjaga dan bisa terus digunakan.

“Selain itu warga juga ingin memperingati Hari Lingkungan Hidup untuk tidak membuang sampah di sungai. Jadi sengaja padusan ini dilakukan di sungai,” ungkapnya. (nia/laz/ong)