HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
OLAH TKP: Polres Kulonprogo dibantu Tim Inafis Polda DIJ melakukan olah TKP di MD Toserba di Jalan Daendels Pedukuhan Dukuh, Desa Sindutan, Temon, Jumat (3/6).
KULONPROGO-Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djuanedi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi kejahatan. Karena kejahatan tidak hanya karena ada niat dari pelaku, tetapi karena ada peluang. “Minimal saat menginggalkan rumah harus dipastikan dalam kondisi terkunci semua. Jangan memakai perhiasan yang mencolok saat bepergian,” tegasnya kemarin (5/6).

Nah, Jumat dini hari (3/6) lalu, jajaran Polres Kulonprogo bersama tim inafis Polda DIJ menangani kasus perampokan MD Toserba milik Siti dan Susilo di Jalan Daendels tepatnya di Pedukuhan Dukuh, Desa Sindutan, Temon.

Saat itu, pemilik dikejutkan segerombolan pria bercadar dengan gambar tengkorak menutupi wajah mereka. Mereka bersenjatakan celurit, pisau, dan keling. Mereka terang-terangan mendobrak pintu depan dan mengancam keluarga Susilo agar menyerahkan barang-barang berharga. “Didobrak suaranya keras seperti ledakan trafo. Saya baru bilang ada apa ya pak. Mereka sudah masuk ada yang melompat dari lubang di atas pintu. Kunci dan kayu palang pintu dijebol,” ujar Siti di sela-sela olah TKP.

Pelaku meminta uang, perhiasan dan barang berharga di rumah toko itu. Para pelaku juga menjebol dua pintu lainnya di dalam rumah itu serta mengobrak-abrik setiap laci lemari. Mengetahui seorang putri dan kemenakan pemilik toko di kamar lainnya, para pelaku mengancam akan memerkosanya jika Siti dan Susilo tidak menunjukkan tempat menyimpan hartanya.

Siti dan Susilo sempat berusaha mencegah, keduanya kemudian dianiaya. Para pelaku kemudian mengikat tangan, kaki, dan menutup mulut suami – istri, putri dan kemenakannya tersebut menggunakan lakban dan menyekap keempat korban.

Kasi Inafis Polda DIJ Kompol Rahmat Hartono menyatakan, tim inafis Polda DIJ akan membackup proses olah TKP. Polisi melakukan pemeriksaan di lokasi dan berusaha mengumpulkan barang bukti materiil. “Ada tanda-tanda dilakukan kekerasan terhadap objek yang akan kami kembangkan,” ucap Kompol Rahmat.

Berdasarkan hasil olah TKP sementara, diperkirakan para pelaku memang mencari barang berharga seperti uang dan perhiasan. Menurutnya, dilihat dari bukti fisik di lokasi, terdapat beberapa bekas kekerasan seperti pintu dirusak. Selain itu polisi juga menemukan semua laci pada lemari telah berantakan setelah dibuka secara paksa menggunakan benda tajam. “Kemudian ada brangkas tapi tidak ditemukan tanda kekerasan atau kerusakan. Kemungkinan pelaku memaksa korban untuk membukanya. Tapi yang jelas mereka mencari barang berharga,” ujarnya.

Sejumlah barang bukti diamankan dari lokasi antara lain lakban yang digunakan pelaku untuk menutup mulut dan mengikat korban, botol air mineral yang diberikan pelaku kepada korban ketika korban meminta minum, dan juga pengumpulan sidik jari dari sejumlah benda di dalam rumah itu.

“Itu semua akan kami kembangkan di reskrim Polda. Termasuk apakah para tersangka mengenal korban, karena salah satunya menyebut nama anaknya. Pelaku sempat memanggilnya meski korban tidak bisa mengenali suara pelaku,” jelasnya.

Meski demikian, sesuai keterangan saksi korban di lokasi, para pelaku yang diperkirakan berjumlah lebih dari lima orang itu memiliki logat Jawa dan Sunda. Selain juga berbahasa Indonesia. “Yang dibawa ada uang sekitar Rp 10 juta, satu unit truk, dan barang-barang elektronik,” ucapnya.(tom/ong)