Adi Daya Perdana/Radar Jogja
MUNGKID – Berbagai elemen masyarakat di sekitar Merapi mengeluarkan tujuh pernyataan sikap terkait penambangan. Mereka menolak keras penambangan galian golongan C di lereng gunung api itu dengan backhoe atau alat berat.

Aksi penolakan dilakukan dengan menggelar treatikal di Candi Asu sekitar Merapi dan aksi damai di beberapa lokasi lain. Mereka merupakan warga dari berbagai elemen yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Magelang untuk (Semmut) Merapi.

Warga menolak kegiatan penambangan dengan alat berat karena terbukti merusak lingkungan dan infrastruktur. Selain itu minim kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Magelang.

Kontribusi penambangan dengan alat berat di Merapi tidak sebanding nilainya dengan kerugian akibat rusaknya lingkungan dan infrastruktur. “Menuntut gubernur dan kantor ESDM Jateng untuk menetapkan moratorium izin tambang dengan alat berat,” kata salah satu perwakilan aksi Iwan Hermawan kemarin (5/6).

Iwan mengatakan, warga meminta peninjauan ulang dan audit proses perizinan tambang yang sudah turun di Kabupaten Magelang. Ini karena terindikasi melanggar hukum. “Yaitu adanya kongkalikong dan korupsi yang merugikan negara serta masyarakat,” ujarnya.

Warga juga meminta Pemkab Magelang tidak mengeluarkan rekomendasi izin penambangan dengan alat berat. Sementara untuk Pemprov Jateng, pemegang kuasa izin pertambangan untuk menetapkan Merapi sebagai kawasan pertambangan rakyat atau wilayah tambang dengan cara manual.

“Pernyataan ini kami buat dengan sadar sebagai ikhtiar untuk selamatkan lingkungan, petani dan jalan evakuasi. Caranya dengan tidak memberikan ruang bagi penambangan dengan alat berat di Merapi,” tegas Iwan.

Sementara saat di Candi Asu, mereka bersama seniman menggelar aksi treatikal. Dipimpin seniman dari Tutup Ngisor Sitras Anjilin, tanpa iringan musik gamelan, beberapa seniman sambil duduk menari dengan tangannya. Tidak berapa lama muncul seniman Ismanto dari sela Candi Asu.

Bak kesurupan, mulut seniman ini mengeluarkan suara yang entah ditujukan kepada siapa. “Bego Lou!!”. Kata-kata itu diucapkan berulang-ulang dengan nada semakin keras. Aksi ini juga diisi dengan tembang mocopat.

“Teriakan Bego Lou…Bego Lou mirip meneriakkan alat berat (backhoe). Bego yang diartikan penambangan di Lereng Merapi dengan alat berat adalah sebuah kebodohan. Tidak cerdas,” kata Sugiyono, salah seorang warga.

Sementara Romo Kirjito dalam kesempatan itu mengaku prihatin dengan maraknya kembali penambangan dengan alat berat. Dia menegaskan, penambangan bukan hanya berdampak ke masyarakat sekitar tambang saja.

“Infrastruktur di Jawa Tengah rusaknya lebih banyak disebabkan dari penambangan,” jelasnya. Ia menilai maraknya tambang alat berat ini karena aparat tidak serius menindak. Dia justru mempertanyakan siapa yang berwenang menindak tambang ilegal.

“Saya heran ketika melihat truk bermuatan pasir yang melebihi batas didiamkan saja. Kalau sudah seperti itu, sebenarnya yang harus bertanggung jawab itu penambang atau pemerintah ya,” ujarnya setengah bertanya. (ady/laz/ong)