GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
1500 PIRING: Pengurus Masjid Jogokariyan menyajikan makanan berbuka puasa, Senin (6/6). Selama Ramadan, pengurus Masjid Jogokariyan menyediakan 1.200 hingga 1.500 porsi makanan berbuka setiap hari bagi masyarakat.
JOGJA – Ramadan, bulan penuh berkah. Pada buka puasa pertama Senin (6/6) kemarin banyak masjid di sejumlah Kampung Ramadan beramai-ramai membagikan menu buka puasa bagi warganya. Seperti di Masjid Jogokariyan, Mantrijeron, Jogja. Juga di Kampung Ramadan Nitikan, Jogja.

Di Kampung Ramadan Jogokariyan, pengurus masjid menyajikan makanan berbuka puasa. Tak tanggung-tanggung, di sana tersedia 1.200 hingga 1.500 porsi makanan berbuka setiap hari untuk masyarakat. Sedangkan di Nitikan, Umbulharjo diadakan pawai Takjil Santri Nitikan. Menghadirkan gunungan takjil replika Alquran raksasa hingga replika Tugu Pal Putih.

Pawai ini berangkat dari kantor kelurahan Sorogenen dan berakhir di Masjid Muthohirin. Dilanjutkan dengan pembukaan Pasar Sore Ramadan Jogja Tempoe Doeloe. Setidaknya ada 220 stan kuliner yang berdiri di sepanjang Jalan Sorogenen, Nitikan.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyambut positif inisiatif warga untuk ngabuburit atau waktu menunggu berbuka puasa ini. Meski begitu, ada dua catatan penting yang perlu diperhatikan untuk menggelar buka bersama dan pasar ramadan.

Pertama adalah memperhatikan kesehatan makanan yang disajikan. Panitia penyelenggara menurutnya wajib mendata dan melakukan uji sampel makanan. Sebab, makanan yang dijual nantinya akan dikonsumsi oleh khalayak luas.

“Mendata siapa saja yang berjualan dan apa saja yang dijual. Lebih bagus lagi ada pendampingan dari BPOM. Ini penting untuk menjaga higienitas makanan yang dikonsumsi,” kata HS, sapaannya, di sela pembukaan Pasar Sore Ramadan Nitikan, Senin sore (6/6).

Selanjutnya memperhatikan arus lalu lintas. Ini kerap terjadi karena pasar ramadan kerap menggunakan bahu jalan. Selama tidak mengganggu arus jalan maka tidak masalah. Oleh karena itu, perlu peran aktif panitia pelaksana pasar ramadan.

Di sisi lain, pasar Ramadan, menurutnya, mampu menunjukkan potensi lokal. Baik itu dalam wujud kuliner, hingga kesenian khas tiap daerah. Apalagi dalam setiap pasar ramadan selalu ditampilkan kesenian kerakyatan.

“Ini sangatlah baik karena bisa mengembangkan potensi lokal. Mampu menjaga silaturahmi terutama dengan masyarakat luas,” katanya. (dwi/ila/ong)