JOGJA – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ mulai melakukan pengecekan terhadap parcel dan bahan makanan lainnya di toko swalayan di Kota Jogja. Hasilnya diketahui masih banyak produk makanan yang kadaluarsa yang masih dijual.

Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengatakan ada beberapa merek produk yang kemasannya tidak layak jual. Seperti sudah penyok, berkarat atau melewati tanggal kadarluasa. Termasuk menarik produk yang tak berizin IRT. “kami beritahu pengelola untuk dikembalikan ke produsen atau distributor,” jelasnya kemarin (7/6).

Ayu menambahkan selama bulan Ramadhan ini akan meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan lapangan pada seluruh produk terutama produk makanan. Pada 2015 hampir 50 persen produk makanan dan minuman di DIJ tidak memenuhi standarisasi dan tak layak jual. “Ada 43 persen produk yang tidak layak jual. Paling banyak di Kabupaten Sleman,” jelasnya.

Untuk menghindari kasus serupa, Ayu menghimbau kepada seluruh pengusaha parcel untuk menyertakan garansi produk di dalam kemasan parcel. Yaitu dengan memasukkan kartu nama yang berisi identitas penjual seperti nomer kontak, alamat dan nama pengusaha parcel. “Selama ini konsumen bingung mau protes kemana,” tuturnya.

Menurut Ayu, garansi parcel tersebut sudah diterapkan ditempat kelahirannya,di provinsi Bali. Ia berharap garansi tersebut bisa diterapkan di DIJ segera. “Kalau ada kartu nama, hitung-hitung sekalian promosi gratis bagi pengusaha parcel,” ungkapnya.

Satf produk toko swalayan Progo, Jovita mengaku terbantu dengan adanya sidak ini. Pihaknya jadi mengerti produk mana yang layak jual dan mana yang tidak. Pihaknya akan segera mengembalikan seluruh produk tak layak jual ke produsen dan distributor dan lebih teliti mengecek barang masuk. “Baru tahu kalau sekarang izin jual pakai IRT,” ujarnya. (pra/ong)