BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
KINI KOKOH: Drumband SD Soko menunjukkan kepiawaian di atas Jembatan Pucung. Sebelumnya aksi seperti ini tidak mungkin dilakukan karena hanya jembatan darurat dari bambu.
PURWOREJO-Impian warga dua rukun tetangga (RT) di RW 2 Desa Soko, Kecamatan Bagelen, Purworejo terwujud. Harapan mereka untuk mendapatkan jembatan yang permanen terlaksana. Jembatan yang rusak parah akibat banjir bandang tiga tahun silam itu, kini sudah berdiri kokoh.

Banyak rintangan yang dihadapi warga untuk kembali membangun Jembatan Pucung ini. Sumber-sumber dana yang dipersiapkan gagal dipergunakan karena terbentur aturan. Untuk beberapa saat, warga terpaksa memanfaatkan bambu untuk bisa menggunakan jembatan itu. “Pasca putus, warga berswadaya membangun jembatan darurat menggunakan jembatan bambu. Tapi hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat,” kata Kepala Desa Soko, Ruswandi di sela-sela peresmian Jembatan Pucung oleh Wakil Bupati Yuli Hastuti, kemarin (5/6).

Baru sesaat menikmati jembatan darurat, warga harus memutar lagi jika memiliki keperluan ke balai desa. Terjangan banjir menghanyutkan jembatan yang dibangun dengan susah payah. “Jembatan daruratnya sebenarnya sudah dibuat menggunakan konsep gantung tapi masih ditumpukan ke dasar sungai. Saat banjir, karena tumpuannya hanyut, jembatan tidak kuat menahan beban dan terbawa banjir,” imbuh Ruswandi.

Harapan masyarakat kembali terbuka saat ada bantuan dari gubernur. Tapi, harapan itu langsung pupus. Munculnya aturan baru mengenai beberapa pembatasan pemanfaatan bangub, menjadikan rencana kembali berantakan. “Begitu ada DD (dana desa, Red) kami langsung mengalokasikan ini. Dil uar dana desa warga secara swadaya mengumpulkan dana Rp 10 juta dan donatur mencapai Rp 5 juta,” kata Ruswandi.

Tukijan, salah satu panitia pembangunan mengatakan total dana dalam membangun jembatan dengan panjang 22 meter dan lebar 3 meter itu mencapai Rp 185 juta. “Pembangunan dimulai November 2015 dan selesai dua bulan kemudian,” kata Tukijan.

Dikatakannya, adanya jembatan itu amat vital untuk mobilitas warga dalam mendistribuskan hasil bumi ke pasar desa yang ada di jalan utama Purworejo-Bagelen melalui Cangkrep. “Dengan adanya jembatan ini juga mempercepat anak-anak untuk mencapai jalan besar saat mau berangkat sekolah,” tambah Tukijan.

Kelik Sumrahadi, tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai bupati Purworejo yang didaulat memberikan sambutan dalam peresmian jembatan mengatakan adanya jembatan desa membuat kehidupan warga Soko tambah semarak. “Sekarang sudah jadi permanen dan ini harus dirawat sebaik-baiknya,” kata suami Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti ini. (udi/din/ong)