JOGJA—KONI DIJ berharap semua cabang olahraga (cabor) yang atletnya berstatus mandiri tetap pada komitmennya untuk berangkat ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Untuk memastikan hal tersebut, KONI DIJ berencana akan mengundang semua pengurus cabor untuk memastikan kesanggupan mengikuti PON yang akan digelar September 2016 mendatang.

“Rencana tanggal 9 Juni 2016, yang mandiri ini akan diundang semua untuk hadir di KONI DIJ. Sekaligus memastikan mereka sanggup atau tidak untuk mengikuti PON nantinya. Untuk sosialisasi biaya sesuai lama mereka bertanding disana,” kata Anggota Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI DIJ Prawindro, kemarin.

Dikatakan, dari perhitungan sementara biaya kontribusi atlet PON 2016 yakni total Rp 13 juta. Bagi atlet mandiri, KONI DIJ hanya akan memberikan subsidi 50 persen. Berdasar estimasi biaya yang dilakukan, atlet mandiri dari cabor catur dan balap kuda akan menjadi yang terbesar jumlah biayanya. Karena dihitung berdasarkan lama mereka saat bertanding, sesuai jadwal pertandingan.

Secara keseluruhan pembiayaan tersebut meliputi akomodasi selama 19 hari yang setiap harinya memakan biaya Rp 300 ribu, dan seragam satu set senilai Rp 2,75 juta. Kemudian ada uang saku atlet selama 19 hari senilai Rp 250 ribu/hari, transportasi Jogja-Bandung pergi pulang (PP) Rp 640 ribu, dan konsumsi perjalanan PP senilai Rp 50 ribu.

“Untuk cabor balap kuda estimasi yang dibayarkan Rp 13,39 juta, tapi yang disetorkan hanya Rp 6,695 karena separuhnya ditanggung KONI DIJ. Menurut jadwal balap kuda akan ada disana selama 19 hari, sedangkan cabor catur 18 hari,” paparnya.

Dikatakan, dari 35 cabor dan subcabor yang lolos ke PON 2016, rata-rata pertandingan hanya digelar selama enam hingga 15 hari. Selain balap kuda dan catur, cabor lainnya yang memiliki jadwal cukup panjang yakni dayung, gantole dan terjun payung.

“Memang dari perhitungan sementara terlihat berat, karena jumlahnya besar. Tapi sebenarnya uang yang dibayarkan nantinya akan kembali juga ke atlet, terutama dalam bentuk fasilitas ataupun uang saku selama tinggal di Jawa barat,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Umum KONI DIJ GBPH Prabukusumo mengatakan, pembayaran atlet puslatda mandiri dijadwalkan mundur dari 1-3 Juni 2016 menjadi 10-13 Juni 2016. Waktu perpanjangan ini bisa digunakan oleh pengurus cabor dan atlet mandiri untuk memastikan berangkat atau tidak dengan memenuhi biaya pendaftaran.

“Kami memang hanya bisa membantu dana 50 persen, nggak berangkat nggak papa, kalau berangkat ya Alhamdulillah,. Kami berharap semua bisa berangkat, mengingat perjuangan mereka untuk lolos sudah sangat luar biasa,”ujarnya.(dya/ong)