BANTUL – Kepala Seksi Pabrik Spritus Madukismo Suhadi angkat bicara soal protes warga bantaran Sungai Bedog. Protes tersebut terkait banyaknya ikan mati di sungai dan tercemarnya air sumur warga akibat limbah cair madukismo yang dibuang di sungai tersebut.

Suhadi membantah matinya ikan karena limbah cair. Meskipun dia tak membantah bahwa Madukismo mengalirkan sisa limbah spiritus ke Sungai Bedog. Suhadi mengklaim, limbah cair perusahaannya tidak termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3). “Limbah kami sudah organik. Bisa dicek,” kilahnya, Minggu (5/6).

Sebelum dialirkan ke sungai, limbah yang dikenal dengan sebutan Vinasse telah melalui tahapan pengolahan. Agar tidak membahayakan lingkungan. Bahkan, Suhadi menyebut limbah tersebut tak lagi berbau.

Pabrik Madukismo menyiapkan kolam khusus untuk menampung cairan hasil mesin produksi spiritus dengan suhu 80-100 derajat Celcius. Kemudian, cairan diolah dan dialirkan ke sungai dengan suhu 50 derajat Celcius. Setiap hari pihaknya mengolah 150 ribu – 200 ribu liter limbah cair. “Semua kami lakukan dengan hati-hati,” tegasnya.

Kendati demikian, Suhadi tak membantah limbah cair berwarna kecoklatan itu memicu turunnya kualitas air sungai. Juga, menyebabkan turunnya kadar oksigen dalam air. Karena itu, ikan di sungai butuh adaptasi dengan penurunan oksigen ini. “Tapi (ikan) tak mati. Hanya muncul ke permukaan,” klaimnya.

Menurut Suhadi, ikan-ikan klenger karena ikatan molekul karbon, oksigen, dan hidrogen dalam limbah cair.

Pernyataan Suhadi terbantahkan dengan fakta yang terjadi kemarin (6/6). Warga Wijirejo, Pandak mendapati ikan mati dalam jumlah lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya, terutama pada Jumat (3/6). “Biasanya dini hari ikan mati. Saat ini (kemarin) pagi hari sekitar pukul 09.00,” ungkap Saiful, salah seorang warga.

Saiful mengaku sempat merasa lega setelah melihat air Sungai Bedog mulai kembali tampak jernih. “Saya kira ini sebagai dampak perbaikan sarana pengolahan limbah Madukismo. Ternyata tidak demikian,” sesalnya.

Sebagaimana diberitakan, warga Dusun Dukuh, Guwasari, Pajangan memprotes pembuangan limbah cair Madukismo karena tak hanya menyebabkan ikan mati. Blothong, begitu warga menyebut limbah tersebut, ditengarai menjadi penyebab air sumur warga tercemar. Juga mengakibatkan banyaknya nyamuk di permukiman penduduk. “Sungai menjadi berbau karena blothong,” ujar Masduki Rahmad, ketua Karangtaruna Dipo Ratna Muda Guwasari.

Masduki menginisiasi aksi protes di tengah aliran Sungai Bedog sebagai bentuk sindiran atas ketidakpedulian pemerintah dan perusahaan terhadap fenomena tersebut. Terlebih, hal itu selalu terjadi setiap tahun saat musim giling tebu.

Masduki mengaku kecewa dengan sikap manajemen pabrik yang terkesan tidak serius memperbaiki sarana pengolahan limbah cair. Menurutnya, pihak pabrik sengaja tak mengalirkan limbah ke Sungai Bedog pada Minggu (5/6) dengan alasan demi kelancaran aksi warga. (zam/yog/ong)