MUNGKID – Penolakan penambangan galian golongan C terus disuarakan warga sekitar Merapi. Warga meyakini betul penambangan dengan alat berat (backhoe) sangat merusak lingkungan. Lahan pertanian warga pun ludes gara-gara aktivitas tambang.

Upaya penolakan sudah dilakukan warga dengan berbagai cara. Namun upaya itu tidak menyurutkan niat penambang terus mengeruk sumber daya alam di sekitar Merapi. Padahal, penambangan sudah berlangsung sekitar 20 tahun.

Salah seorang petani di Desa Keningar, Dukun, Sartono merasakan betul dampak dari aktivitas tambang. Luasan lahan pertanian yang rusak akibat pertambangan mencapai 50 hektare. Lahan pertanian menjadi berlubang besar dan kontur tidak beraturan.

Kondisinya kini hanya tinggal bebatuan limbah tambang pasir. Situasi ini membuat kesulitan para peternak mendapatkan asupan makanan piaraan hewan-hewan. “Yang sangat menyedihkan lagi kenapa penambang begitu sangat jahat tanpa menata lahan agar rumput bisa tumbuh lagi,” katanya kemarin.

Menurut dia, kondisi ini mengakibatkan lapisan tanah subur hilang. Sehingga untuk kembali seperti semula memerlukan waktu yang cukup panjang. Bahkan hingga beratus-ratus tahun.

“Saya sangat heran kenapa pemerintah hanya diam saja tidak memikirkan rakyatnya. Dan tidak memikirkan generasi yang akan dating, anak cucu cicit kami,” tuturnya.

Sartono yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Keningar itu mengungkapkan, masyarakat Keningar mayoritas sebagai petani yang memerlukan air. Tetapi pernambangan justru merusak bangunan saluran irigasi. Pernah irigasi yang didanai program pembanguna infrastrutur perdesaan (PPIP) sebesar Rp 250 juta rusak pada 1999 salam. Dan harus diperbaiki oleh dana bantuan gubernur Rp 44 juta pada 2015.

“Air pun kini sudah menyusut. Ketika ingin mengairi sawah para petani berebut dan adu mulut. Hal ini menimbulkan konflik sosial. Jelas kami sangat prihatin dengan mengatasnamakan pembangunan tapi tanah kami yang dijadikan korban,” katanya.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Merapi Warto menjelaskan, dulu Desa Keningar sangat indah bisa hidup guyub rukun dengan alam yang masih alami. Akan tetapi pada 1996 merupakan awal kehancuran alam.

Datangnya raksasa besi berupa backhoe membuat alam Desa Keningar berubah 180 derajat. Pasukan besi itu memporak-porandakan serta menghancurkan tanah khas desa yang sangat subur.

“Masa itu merupakan pergantian periode kepala desa yang tidak ramah lingkungan. Ini sangat melukai masyarakat yang telah memilihnya,” kenangnya.

Silih berganti kepala Desa Keningar, problematika pertambangan belum terselesaikan. Bahkan adanya pernambang justru mengancam nyawa masyarakat karena bibir sungai yang menjadi tanggul alami dirusak.

Kondisi ini memungkinkan jika ada banjir lahar Merapi akan mengarah ke Desa Keningar dan Desa Sumber yang mengancam nyawa masyarakat. Dengan alasan itu, ia sangat getol menolak penambangan. “Kami akan berusaha menolak tambang sampai titik darah penghabisan,” tegasnya.

Upaya penolakan ini juga dilakukan anak-anak dan warga Desa Keningar bertepatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kemarin (5/6). Upaya ini sebagai edukasi kepada anak-anak dengan cara menolak izin pertambangan atas dasar keprihatinan.

Wilayah Keningar telah rusak parah akibat pertambangan yang serampangan dan sangat tidak manusiawi. “Penambang tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk keberlanjutan hidup,” katanya. (ady/laz)