BANTUL – Kisruh pembuangan limbah cair pabrik gula dan spiritus Madukismo ke Sungai Bedog berbuntut panjang. Hal itu memantik wakil rakyat di DPRD DIJ untuk ikut angkat bicara. Sekretaris Komisi C Agus Subagyo mendesak Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ maupun BLH Bantul segera mengecek kualitas sumur warga di sepanjang Sungai Bedog.

Politikus Golkar asal Ngaglik, Sleman itu cukup serius menyoroti persoalan tersebut. Sebab, berdasarkan hasil monitoring komisi, diketahui adanya pencemaran air sungai yang berasal dari limbah Madukismo.

“Jelas terlihat. Itu asalnya dari limbah pabrik gula,” katanya kemarin (7/6).

Secara kasat mata, lanjut Agus, terlihat perbedaan warna air. Menjadi kecoklatan, serta bau tak sedap disebabkan limbah bernama vinasse tersebut. Limbah itu pula yang ditengarai menjadi penyebab utama matinya ikan milik kelompok warga. Menurut Agus, dari pengakuan kelompok tani ikan, biasanya ada pemberitahuan ari pihak pabrik saat akan membuang limbahnya. Informasi itu ditindaklanjuti warga dengan menutup aliran sungai. Tapi, hal itu tidak terjadi pada minggu lalu.

Agus juga mempertanyakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Madukismo. “Perusahaan sebesar madukismo tidak seharusnya membuang limbang ke sungai,” sindirnya. Agus juga menyayangkan adanya informasi awal bahwa limbah Madukismo akan dibuat pupuk. “Tapi, kenyataannya dibuang ke Bedog,” lanjutnya.

Anggota Komisi C Chang Wendriyanto mendesak pihak Madukismo segera menyelesaikan persoalan tersebut. “Ini, kan bukan yang pertama kali. Harus segera dicarikan solusinya,” tegas politikus PDIP itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Bantul Eko Sutrisno Aji berharap persoalan itu menjadi perhatian bersama. Khususnya, pemerintah dan perusahaan terkait. Sebab, apapaun dalih perusahaan tentang pengelolaan limbah cair, faktanya, banyak ikan dan organisme sungai mati. Apalagi, hal itu terjadi setiap tahun saat penggilingan tebu. “Ini problem besar,” ujarnya kemarin (7/6).

Politikus PPP asal Pandak ini tak menampik peran besar Madukismo selaku satu-satunya produsen sekaligus supplier gula dari DIJ yang mendistribusikan produk ke wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah bagian selatan.Kendati demikian, bukan berarti pihak-pihak yang bersangkutan tutup mata dengan dampak negatif yang ditimbulkannya. “Kesannya, selama ini tidak ada yang berani mengkritik,” ucapnya.

Menurut Eko, limbah cair memang boleh dialirkan ke sungai. Tapi harus lebih dulu melalui serangkaian pengolahan hingga benar-benar steril. Agar tidak mencemari lingkungan. Eko justru mencurigai kemungkinan limbah cair lain dari Madukismo yang dialirkan ke sungai selain Bedog. “Ini harus segera dikendalikan,” tegasnya.

Eko menegaskan bahwa Bedog memiliki fungsi krusial bagi masyarakat. Selain menyuplai kebutuhan lahan pertanian, aliran sungai menjadi sarana budidaya perikanan bagi warga di sepanjang bantaran.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul Edy Mahmud membenarkan jika Sungai Bedog ditetapkan sebagai tempat pembuangan limbah cair Pabrik Madukismo. Sepengetahuannya, limbah tersebut telah diolah sesuai prosedur. Karena itu, Edy tak berani memastikan penyebab matinya ikan di Sungai Bedog. Apakah memang karena limbah cair Madukismo atau akibat hal lainnya. “Ikan yang mati bukan spesies yang biasa hidup di sungai,” kilahnya.

Terlepas dari persoalan tersebut, Edy mengklaim bahwa ikan mati di Sungai Bedog aman dikonsumsi. Buktinya hingga sekarang belum ada warga yang masuk ke rumah sakit karena mengkonsumsi ikan-ikan itu.(pra/zam/yog/ong)