Amir Hamzah saat mengucapkan sumpah pada pelantikan sebagai Rektor IST Akprid, beberapa waktu lalu.
JOGJA – Pucuk pimpinan Institut Teknologi (IST) Akprind Jogjakarta telah berpindah tangan. Posisi rektor IST Akprind yang dijabat Sudarsono hingga dua periode tersebut kini digantikan oleh Amir Hamzah. Sebelumnya, pria kelahiran Magelang, 5 Mei 1963 ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengembangan Pendidikan dan Aktivitas Instruksional (BP2AI) IST Akprid. Ia juga pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor I Bidang Akademik di bawah Pimpinan Rektor semasa kepemimpinan Sudarsono periode pertama.

Amir Hamzah menegaskan, prestasi yang pernah diraih IST Akprid semasa kepemimpinan terdahulu sudah baik. Namun, sebagai rektor yang baru dirinya bertekad memajukan kampus dibawah Yayasan Pembina Potensi Pembangunan ini menjadi lebih baik. Ke depan, ia ingin kampusnya dapat menyelenggarakan program studi pascasarjana S2. “Ini untuk menjawab tantangan perkembangan sekaligus harapan masyarakat,” kata Amir usai dilantik sebagai rektor IST Akprid beberapa waktu lalu.

Menurutnya, saat ini IST Akprind telah memiliki tiga fakultas dengan sembilan program studi strata S1 dan empat program studi diploma 3. Untuk meningkatkan daya saing sekaligus memenuhi harapan masyarakat, Hamzah ingin meningkatkan perolehan akrediasi institusi lembaganya.

“Sekarang IST Akprind telah memperoleh akreditasi institusi B, di masa mendapat semoga meningkat menjadi A. Caranya, kami akan mewujudkan IST Akrpid sebagai kampus favorit dan unggul dengan slogan Guiding You To a Bright Future yang artinya IST Akprind akan menghantarkan anda menuju masa depan yang cerah,” tambah Hamzah.

Sudarsono mengatakan, secara statistik IST Akprind telah mencapai prestasi yang cukup membanggakan yaitu masuk dalam jajaran perguruan tinggi (PT) berkualitas dengan menempati peringkat 6 dari 106 PT di DIJ, peringkat 25 besar PT Swasta dan posisi 63 diantara 3.320 PT di bawah KemenristekDikti. Namun, dibalik prestasi tersebut masih banyak yang perlu dibenahi.

“Perubahan manajemen hanya dapat dilakukan apabila pimpinan bersikap terbuka dan transparan, melibatkan banyak pihak dan mengakomodir berbagai kepentingan sivitas akademika,” terang Sudarsono.

Ia optimistis, Hamzah sebagai penggantinya dapat mewujudkan perbaikan dan membawa IST Akprind menjadi lebih baik. Sebagai lembaga pendidikan, IST Akprind harus terus melakukan continuous improvement dengan menganut prinsip-prinsip Good University Governance (GUG) terhadap hasil-hasil yang sudah dicapai. Tak kalah pentingnya, manajemen mampu meningkatkan kinerja dan kesejahteraan para dosen dan pegawai.

“Jangan lupa tingkatkan kuantitas dan kualitas penelitian dan meningkatkan fasilitas akademik dan non akademik,” jelasnya. (mar/ong)