GUNAWAN/RADAR JOGJA
MENAKUTKAN: Sejumlah warga yang tinggal di kawasan Pantai Sadranan, Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul mengevakuasi harta benda akibat dihantam gelombang, kemarin (8/7).
Efek gelombang tinggi Pantai Selatan berdampak buruk bagi warga pesisir Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo. Objek wisata di tiga kabupaten itu lumpuh. Puluhan bangunan rusak dan hilang akibat diterjang ombak besar.

DI Gunungkidul, tim SAR mencatat ketinggian ombak kemarin (8/6) mencapai 19 feat atau 5, 5 meter. Data sementara dari SAR Satlinmas Korwil II, gelombang tinggi menerjang sejumlah pantai. Hingga berita ini diturunkan, ada belasan pantai dalam kondisi laut pasang dan semuanya nyaris memicu kerusakan.

Sekretaris Sarsatlinmas Wilayah II Pantai Baron Surisdiyanto mengimbau kepada seluruh warga dan wisatawan agar menjauh dari pantai. Berdasarkan informasi, gelombang akan naik hingga 19 feat, dan masih akan terjadi hingga 9 Juni mendatang
Surisdiyanto mengungkapkan, saat ini ada satu kapal nelayan Pantai Gesing dengan dua anak buah kapal (ABK) yang turun jangkar di tengah laut. Berharap kondisinya aman dan bisa me-nepi.

“Kapal Dwi Tunggal milik nelayan Pantai Gesing turun jangkar di tengah laut. Kami belum bisa berkomunikasi lagi. Semoga dalam kondisi aman dan bisa menepi setelah gelom-bang mereda,” katanya kemarin.

Diungkapkan, data kerusakan yang dihimpun oleh Tim SAR yakni di Pantai Drini, sebanyak tujug gasebo ambruk dan 13 warung makan tertimbun pasir putih sedalam 5 sentimeter.

Di Pantai Sadranan sebanyak delapan gasebo ambruk, dan tiga lainnya lenyap terbawa arus. Kemudian di Pantai Ngandong, empat gasebo juga hilang terbawa arus ke selatan. “Untuk Pantai Sundak, ter dapat tiga gasebo ambruk, satu rumah makan rusak berat, dua rumah makan tertimbun pasir sedalam 50 sentimeter. Juga ada tiga kamar mandi tertimbun pasir,” ungkapnya.

Kerusakan terparah ada di Pantai Somandeng, Tepus. Sebanyak 25 gasebo ambruk, 12 gasebo terbawa arus ke tengah, lima lapak pedagang rusak, dan satu rumah makan dindingnya ambrol. Sedangkan di Pantai Pulang Sawal atau Indrayanti, satu rumah makan terkena abrasi, delapan gasebo tertimbun pasir sedalam 100 sentimeter.

Pantai Pok Tunggal, kerusakan me liputi satu bangunan pos SAR dan satu bangunan tempat parkir ambruk. Pantai Gesing, bagian talud jalan masuk menuju pantai ambrol, dan parkiran tergerus air laut.

“Pantai Sepanjang sendiri kerusakan mencapai 80 persen.Gasebo dan lapak dan sisi timur sampai barat rusak berat,” ungkapnya.

Akibat kondisi ini, warga di-imbau untuk tidak mendekati laut. Begitu pula wisatawan yang datang ke pantai sebaiknya me-ngurungkan niatnya.

Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbubpar) Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, musibah ini adalah kehendak alam.

“Saya belum menerima secara pasti total kerusakan dampak dari gelombang tinggi. Hari ini (kemarin) saya juga terjun ke sejumlah lokasi,” kata Hary.

Atas peristiwa ini pihaknya berharap agar pelaku wisata maupun masyarakat bijaksana dalam menyikapinya. Salah sa-tunya dengan mematuhi aturan main. “Misalnya, menaati aturan pendirian gasebo atau bangunan lain yang sudah diatur. Nanti setelah suasana normal, akan kami tata kembali,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo me-ngaku masih melakukan pen-dataan terkait korban gelombang tinggi ini. “Karena gelombang tinggi masih berpotensi terjadi lagi, maka semua warga di ka-wasan pantai patut waspada. Wisatawan kami harapkan untuk menahan diri,” ungkapnya.

Sementara itu di Kulonprogo, gelombang tinggi laut selatan menerjang kawasan objek wisata (obwis) Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, kemarin (8/6).

Limpasan air merendam pu luhan warung di sekitar laguna Pantai Glagah. Pantauan di lapangan, gelom-bang tinggi mulai terjadi sejak pukul 08.00. Gelombang tinggi menghantarkan air laut me lompat bukit pasir di sisi selatan laguna dan melimpas di kawasan wisata.

Tidak hanya merendam warung, air rob juga menggenangi areal parkir, akses jalan, dan kolam ikan. Sejumlah tambak udang juga terancam.Kondisi ini praktis memengaruhi tingkat kunjungan wisatawan di Pantai Glagah. Ada beberapa pengunjung yang datang, mereka awalnya tidak tahu jika terjadi peristiwa ini.

Bahkan sebagian dari wisatawan yang terlanjur datang ke pantai justru me-manfaatkan fenomena naiknya air laut ini untuk ajang foto selfie. Salah satu pedagang Titin Sumarwati mengatakan, air laut masuk ke warung dan merendam perkakas dapur. Semakin siang semakin tinggi dan deras arus-nya.

“Itu lho airnya masuk lewat atas pasir itu, saking tingginya gelom-bang. Air masuk ke laguna dan melimpas ke warung-warung sekitarnya termasuk ke warung makan milik saya,” katanya.

Titin menambahkan, kerugian akibat peristiwa ini belum bisa dikalkulasi, namun sebagian pedagang saat gelombang tinggi banyak yang berusaha me-nyelamatkan dagangannya.

Kendati banyak yang terendam dan mengalami kerusakan. “Kebetulan sebagian warung makan ada yang memilih tutup saat puasa, yang datang kebanyakan orang mancing. Untuk yang datang untuk berwisata takut, karena gelombangnya tinggi sekali,” ung-kapnya. (gun/tom/ila/ong)