Kawasan Pantai Jatimalang di Desa Jatimalang, Purwodadi, Purworejo menjadi sasaran kunjungan masyarakat yang ingin melihat gelombang pasang, kemarin (9/6). Tidak ada petugas atau relawan bencana di lokasi untuk memberikan pemahaman mengenai dampak bencana di lokasi. Beberapa warga berusaha men-dekati air dari bibir pantai yang terlihat lebih curam dibanding sebelumnya.

Beberapa kali mereka harus berlarian saat gelombang mendorong air jauh ke daratan. Seakan tidak ada kapoknya, begitu air kembali ke laut, masyarakat kembali bersiap di atas tebing.

“Penasaran ingin melihat dari dekat seperti apa ombaknya,” kata pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo Qisti-dehea Ghesa FB, 16, yang ter catat sebagai warga Kelurahan Sin-durjan, Purworejo. Datang bersama seorang temannya, Marisa Yuniarti, 16, Ghesa memanfaatkan keda-tangannya untuk mengabadikan diri dengan latar belakang ombak yang besar. Pantauan Radar Jogja, gelombang pasang terlihat mulai liar mulai pukul 10.00 hingga tengah hari.

Gerakan air terus menghajar kolam-kolam renang yang dikelola warga. Melihat gerakan gelombang yang semakin membabi buta, Riyanto, 42, pengelola kolam renang memilih untuk me-nurunkan penahan sinar mata-hari dari atas kolam. Itu dilaku-kan sebelum, air menghanyutkan salah satu asetnya. “Mumpung masih bisa diselamatkan saja. ” ungkap Riyanto.

Kondisi serupa terjadi di Pantai Keburuhan, Ngombol. Seorang petugas parkir yang berada di bibir jembatan yang terputus berusaha menyelamatkan areal parkir yang terletak lebih rendah dari jalan utama. Petugas parkir Pantai Ke buruhan Suto Dimejo, 80, terpaksa harus gigit jari karena usahanya mem-bendung air agar tidak masuk ke parkirannya gagal.

“Airnya terlalu besar dan sulit dikenda-likan,” katanya. Terpisah, Kasi Kedaruratan BPBD Purworejo Sigit Ahmad Basuki mengatakan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, utamanya menyangkut nyawa, memberikan imbauan pada ma-syarakat untuk menghindari pesisir pantai. (tom/gun/udi/ila/ong)