Setiap pekerjaan memiliki risiko masing-masing. Terutama saat menghadapi bulan puasa. Pada masa puasa ini tak mengubah pekerjaan anggota tim Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Polrestabes Surabaya.

Saat menemukan mayat membusuk, beban mereka tak hanya menahan lapar dan dahaga. Tapi, juga menahan agar perut tidak muntah. Ya, sebagai petugas yang turun langsung ke lapangan, Inafis selalu mendapat banyak tantangan selama Ramadan. Saat bulan puasa seperti ini, tak berarti tidak ada temuan mayat.

Bisa jadi malah lebih banyak. “Tidak ada bedanya. Paling ya lebih haus,” ucap Kepala Urusan Inafis Aiptu Eddy Sucipto, lalu tertawa.

Eddy mengatakan, selama Ramadan timnya memang harus lebih ekstra menahan haus saat turun ke lapangan. Apalagi saat tim Inafis harus menyambangi TKP ketika siang. Tenggorokan kering dan bulir keringat di wajah tidak boleh mengganggu proses identifikasi.

Contohnya, saat mereka melakukan olah TKP di Manyar Tirtoyoso kemarin (10/6). Sekitar pukul 09.00 mereka mendapat laporan adanya temuan mayat.

“Posisinya baru empat jam kaku. Harus tetap dikerjakan meski sedang puasa,” imbuh Eddy.

Bagi tim Inafis, bergumul dengan mayat memang bukan hal baru. Mereka terlatih untuk memeriksa jenazah. Baik yang baru ditemukan sesaat setelah meninggal maupun yang sudah lama membusuk.

Tapi, bau jenazah yang membusuk tetap saja menjadi tantangan tambahan bagi tim Inafis saat berpuasa. Jika tidak kuat, mereka bisa muntah. Untung, mereka punya teknik untuk mengatasinya.

“Jenazah membusuk tidak boleh jadi halangan. Fatal kalau sampai kami salah mengidentifikasi dugaan penyebab kematiannya,” lanjut dia.

Tim Inafis Polrestabes Surabaya ternyata punya cara untuk mengatasi aroma jenazah yang sudah membusuk. Saat pertama mendekati tempat penemuan jenazah, mereka biasanya akan menghirup dalam-dalam aroma busuknya. Setelah itu, mereka terbiasa dengan baunya.

Untuk mengurangi aroma busuk, mereka biasanya meminta warga menabur arang terlebih dahulu. Arang bisa menyerap bau tak sedap yang ada di sekelilingnya.

“Alhamdulillah, masih belum ada yang bolong (puasanya, Red),” ujar anggota Inafis Bripka Bambang S. Putro.

Selain mengurusi jenazah, Inafis turut dalam penggerebekan tiga teroris yang ditangkap di tiga lokasi berbeda. Rabu siang sebuah mobil berwarna oranye meluncur dari Mapolrestabes Surabaya. Sirenenya meraung membelah kemacetan. Anggota Inafis memang diburu waktu agar stand by di lokasi.

Di Lebak Timur III-D, dengan sabar mereka menunggu tim Gegana memeriksa bahan peledak. Selama proses menunggu itu, berbagai godaan sempat menghampiri.

“Lihat anak-anak minum es rasane melok ngelak,” kelakar anggota Inafis Aipda Widianto.

Namun, itu sebatas pikiran. Nyatanya, mereka semua bisa menuntaskan puasa sampai beduk Magrib. Di lokasi penggerebekan itu, Inafis melakukan olah TKP. Seusai Gegana memeriksa dan tim Densus memastikan keamanan lokasi, Inafis masuk ke TKP. Di dalam, mereka memotret beberapa titik. Bahan peledak yang tersisa di TKP diserahkan kepada jibom.

“Kami menginventarisasi benda yang bisa menjadi tambahan barang bukti,” terang Eddy. (did/c10/fat)