KERUSAKAN infrastruktur di beberapa pantai di DIJ akibat gelombang tinggi, menunjukkan masih adanya pelanggaran. Wilayah sempadan pantai yang harusnya bersih, malah terdapat bangunan.

“Saya kan selalu bilang ke kepala daerah kalau buka warung atau penginapan ojo mepet laut. Mundur,” ujar Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X ketika ditemui di Kepatihan, kemarin (9/6).

Menurut HB X, sudah ada aturan wilayah sempadan pantai dilarang didirikan bangunan
Raja Keraton Jogja itu meng-harapkan dengan peristiwa gelombang tinggi yang sampai merusak bangunan, bisa mem-buat pengelola sadar. Termasuk bersedia untuk mundur sesuai dengan aturan sempadan pantai. “Di situ milik publik jangan di-tutupi warung,” ujarnya.

HB X mengatakan, ada saatnya air laut pasang dan merupakan hal yang wajar. Tapi, timbulnya kerusakan di sekitar pantai, karena banyak yang tidak meng-ikuti aturan.

“Kalau manut tidak ada kerusakan,” lanjutnya.Plt Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Gatot Saptadi juga menegaskan zona sempadan pantai harus steril dari bangunan. Gelombang tinggi yang sampai ke daratan juga menunjukkan jika aturan zona sempadan pantai harus diikuti.

DIJ sebenarnya sudah me miliki Perda 16/2011 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Dalam pasal 87 ayat 1 disebutkan arahan pe-ngelolaan zona sempadan pantai ditetapkan dengan lebar minimal 100 meter untuk Gunungkidul dan minimal 200 meter untuk Bantul dan Kulonprogo yang dihitung dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ itu menambahkan, para peran-cang perda dulu sudah mem-persiapkan aturan zona sempadan untuk berjaga-jaga jika ada ke-jadian seperti kemarin. Untuk itu, Gatot meminta Perda 16/2011 tersebut dilaksanakan. Diakuinya, gelombang tinggi kemarin merupakan yang tertinggi. Sebelumnya belum pernah ter-jadi, termasuk daya jangkau yang masuk hingga 100 meter ke daratan.

“Ya seperti tsunami kecil,” ujarnya. Sementara itu, gelombang tinggi yang menerjang pantai selama sepekan terakhir menyisakan sejumlah pekerjaan rumah bagi Pemkab Bantul.

Yang paling urgent di antaranya per-soalan sampah. Hampir di seluruh objek pariwisata pantai dipenuhi dengan sampah.Sampah yang didominasi plastik dan ranting pepohonan ini ditengarai bawaan gelombang tinggi. Di kawasan Pantai Depok, misalnya. Tak ada sudut di pinggir pantai yang terkenal dengan wisata kulinernya ini yang bersih dari tumpukan sampah. Begitu pula dengan kondisi Pantai Parangkusumo hingga Pantai Parangtritis.

Nyaris serupa. “Seperti habis kena banjir,” ucap Marni, salah satu pemilik warung kuliner di Pantai Depok, kemarin (8/6).Kendati demikian, Marni menga-ku, masih enggan membersihkan tumpukan sampah yang me ngotori halaman warungnya. Begitu pula dengan pemilik warung kuliner lainnya. “Me nunggu laut-nya normal dulu,” ujarnya.

Setali tiga uang, kondisi di Pantai Baru Pandansimo. Jumali, salah satu pemilik warung kuliner di sana mengungkapkan hal senada. Menurutnya, pemilik warung kuliner di pantai baru masih fokus membersihkan sekaligus menyelamatkan aset-aset mereka. (pra/zam/ila/ong)