MUNGKID – Gara-gara uang tabungan siswa tak segera dibagikan, puluhan wali murid TK Mardi Putra, Desa Ringinanom, Tempuran melakukan aksi protes kemarin (9/6).

Mereka menuntut manajemen sekolah segera membayarkan hak siswa. Yang seharusnya dibagikan pada 30 Mei. Para wali murid juga mendesak pemerintah memecat Puji Lestari, kepala sekolah TK Mardi Putra, baik dari jabatan maupun statusnya sebagai pegawai negeri sipil.

Siti Qoesoh, salah seorang wali murid mengungkapkan bahwa kasus tersebut bukan kali pertama terjadi. Sekitar empat tahun lalu, uang tabungan siswa juga pernah ditahan pihak sekolah. Meskipun akhirnya dikembalikan, tapi tidak tepat waktu. Karena itu, saat hal itu terulang, para wali murid langsung merespon dengan protes. Secara bersama-sama mereka mendatangi gedung sekolah.

Menurut Siti, total tabungan tahun ini mencapai Rp 60 juta. Uang itu terkumpul dari sekitar 120 siswa. Nilai tabungan per siswa, rata-rata Rp 500 ribu – Rp 7 juta. Tabungan disetor ke sekolah dua kali seminggu. Tiap Senin dan Kamis. Sedangkan jumlah siswa TK 120 lebih yang terbagi dua kelas, TK kecil dan dua TK besar.

“Dia (kepala sekolah) berbohong dan memakai uang tabungan untuk keperluan lain,” tuding Ana, 27, wali murid lainnya.

Menurut Ana, uang tersebut semula direncanakan untuk biaya piknik siswa pada 23 Mei. Namun, dengan berbagai alasan uang tabungan tidak segera dibagikan. Pihak sekolah menjanjikan pencairan tabungan pada 30 Mei. Akibatnya, rencana piknik pun gagal.

Ternyata, janji yang disampaikan Puji Lestari kembali diingkari. Dia justru minta waktu lagi hingga kemarin. “Eh, kok, malah orangnya tidak datang,” sesal Ana.

Nadhiroh, salah seorang guru, menuturkan, bersama tiga guru lain telah berupaya mencari jalan keluar. Dengan mempertemukan wali murid dengan kepala sekolah, didampingi UPT Pendidikan Kecamatan Tempuran pada awal bulan lalu. Pertemuan pada 30 Mei yang disaksikan pihak kepolisian juga atas inisiatif para guru. “Janjinya memang hari ini (kemarin) dibagikan. Namun, Bu Puji tidak hadir. Telepon selulernya tidak aktif sejak kemarin siang,” ungkap Nadhiroh.

Nadhiroh hanya bisa mengaku malu dan minta maaf kepada wali murid. Dia mengaku telah berupaya maksimal untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Silahkan tempuh dengan jalur lain, kami tidak bisa melarang,” lanjutnya.

Mendengar penjelasan Nadhiroh, para wali murid lantas sepakat melaporkan kasus tersebut ke polisi. Kendati demikian, mereka tetap menuntut pengembalian uang tabungan siswa sebelum Lebaran.(ady/yog/ong)