Hendri Utomo/Radar Jogja
Imbas amukan gelombang tinggi di pintu muara Sungai Bogowonto, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, semakin meluas. Tidak hanya menyasar jeti (pemecah gelombang) dan membuat pintu muara terbagi menjadi tiga, gardu pandang yang berada di sisi timur pintu muara juga amblas disapu gelombang pasang.

Petugas Pos Sea Rider TNI AL Pantai Congot Kopka Rokimanto mengungkapkan, gelombang pasang paling parah terjadi kamis (9/6) sekitar pukul 09.00 hingga 13.00. Sapuan ombak besar berhasil menyasar sisi luar pancang jeti, di sisi timur dan barat muara.

Posisi jeti kini justru berada di tengah, sementara pintu muara baru muncul di sisi barat dan timur jeti, sehingga pintu muara kini menjadi tiga. Tumpukan batu-batu di sekitar pancang jeti tidak mampu menahan ombak dan justru membelokkan kedatangan ombak dan menghantam sisi timur Jeti.

“Hasilnya dataran di sisi luar pancang jeti timur amblas sekitar 30 – 35 meter. Termasuk gardu pandang 3 x 4 meter yang masih baru dan belum diserahkan pihak kontraktor kepada pemerintah, juga amblas Kamis sekitar pukul 12.51,” ungkapnya kemarin (10/6).

Menurutnya, kerusakan bangunan gardu pandang itu sangat disayangkan, karena hanya berfungsi beberapa saat saja pascadibangun. Jika dilihat konstruksinya, bangunan nyaris hanya diletakkan di atas pasir, sehingga sangat mudah terkikis gelombang pasang.

“Setahu saya gardu pandang ini merupakan proyek Kementerian Kelautan, sama seperti green belt (penanaman 20 ribu pohon cemara udang). Kalau tidak salah, nilainya hampir mencapai Rp 200 miliar,” jelasnya.

Menurut Rokimanto, gelombang pasang hampir setiap hari terjadi di muara Bogowonto, namun gelombang pasang kali ini dinilai paling merusak. Salah satu penyebabnya, gelombang dihantarkan angin dari tenggara. Dampaknya, ombak besar langsung menghantam sisi luar bangunan yang menghadap ke selatan.

Termasuk jeti juga, awalnya hanya terkikis sedikit demi sedikit di sisi luar bagian timur. Saat gelombang terhalang banguna jeti yang menjorok ke selatan, gelombang semakin keras membuat abrasi di sisi timur, hingga membentuk pintu muara baru, sekaligus menghabiskan dataran termasuk gardu pandang.

“Angin timur tenggara memang sangat ganas untuk pesisir selatan Jawa, termasuk Kulonprogo. Purworejo, Kebumen dan terus ke barat yang boleh dikatakan berhadapan langsung dengan datangnya gelombang, kerusakannya mungkin lebih parah,” ujarnya.

Sementara itu, potensi SAR Muhammadiyah Disaster Managemen Centre (MDMC) Kulonprogo Sunar Wibowo menambahkan, Badan Meterorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) DIJ memprediksi gelombang pasang mulai mereda. Dan hal itu terbukti kemarin gelombang sudah tidak setinggi sebelumnya.

“Namun kondisi muara memang sudah rapuh tanpa penahan, sehingga abrasi masih terus terjadi. Hari ini mulai kecil, tapi besok (11/6) diprediksi besar lagi. Karena ramalan juga tidak selalu tepat, awan, mendung juga berpengaruh,” imbuhnya.

Dikatakan, selama gelombang tinggi terjadi pihaknya menyiapkan tiga regu untuk memantau keadaan terkini secara bergantian. Satu regu terdiri atas 10 orang, mereka melakukan pemantauan mulai dari Trisik hingga Congot.

“Sebagai relawan kami hanya membantu dengan bergabung bersama TNI, Sat Radar Congot, polisi dan elemen lainnya. Untuk kerusakan yang sudah terjadi, semoga segera ada penanganan dari pemerintah,” ucapnya. (tom/laz/ong)